Kebumen – Indonesia tidak hanya meyuguhkan kekayaan alam dan ragam budaya, namun juga kuliner nusantara yang diakui dunia. Setiap daerah memilki kuliner khasnya masing-masing, tidak terkecuali Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Sate ambal merupakan sate khas Kebumen, tepatnya di daerah Ambal. Yang membuat sate ini unik dan beda dari sate lainnya adalah penggunaan daging ayam kampung yang dilengkapi dengan bumbu kental yang terbuat dari tempe rebus yang dihaluskan.

Di Kebumen, sate ini mudah ditemui di banyak tempat. Namun sayangnya, sate ambal tidak dapat bertahan lama sehingga tidak dapat dijadikan buah tangan bagi siapa saja yang pulang berkunjung dari Kebumen. Tanpa perlakuan khusus, sate ini hanya dapat bertahan tak sampai 24 jam. Hal ini menggerakan Titin Agustinah dan Nurrokhman Jauhari untuk berinovasi.  

Upaya sepasang suami-istri asal Kebumen ini dimulai sejak tahun 2015. Saat itu, Titin dan Nurrokhman membungkus sate ambal dengan kemasan vakum bermaterial nilon. Tidak sampai dua hari, sate sudah tidak layak konsumsi. Namun, berkat kegigihan dan kemauan untuk belajar, kini sate ambal yang mereka beri nama Allisha ini dapat tahan hingga 6 bulan tanpa freezer dengan menggunakan teknologi retort rumahan. “Saya menjamin cita rasa khas sate ambal tidak berubah, hingga enam bulan, dengan teknologi ini,” ucap Titin. 

Demi memperkenalkan Allisha ke seluruh pelosok negeri, pada tahun 2018 dan 2019 Titin dan Nurokhman mengikuti Program Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) (sekarang Startup Inovasi Indonesia). Siapa yang menyangka, setelah dua tahun mengikuti program tersebut, usaha yang dimulai oleh sepasang suami istri itu, kini memiliki 12 orang karyawan. Tak hanya itu, Allisha Sate Ambal telah memperoleh izin Edar BPOM MD (Izin Edar untuk Pangan Olahan) dan Halal MUI. Guna melancarkan misinya menembus pasar Internasional, Allisha juga melakukan pengurusan sertifikasi HACPP (Hazard Analysis Critical Control Point). 

“Kegiatan Business Camp PPBT meningkatkan kapasitas kami sebagai pengusaha pemula. Selain itu, kami juga dipertemukan dengan para pakar yang ahli dibidangnya. Program ini sangat cocok untuk perusahaan pemula/ Startup yang membutuhkan sarana untuk memperoleh legalitas usaha, pengembangan produk dan akses pasar,” ungkap Titin. 

Selain mengikuti program PPBT, Allisha juga aktif mengikuti berbagai kegiatan untuk ekspansi pasar dan menggait investor. Allisha yang merupakan 30 Startup Unggulan Kemenristek/BRIN, baru-baru ini terpilih sebagai Top 25 Food Startup Indonesia, 30 Top UKM Award, 30 Top Indonesia Food Innovation serta Top 15 Bangga Buatan Indonesia. Tahun sebelumnya, Allisha Sate Ambal juga menjadi Juara pertama UKM PANGAN AWARDS Tingkat Nasional kategori produk unggulan khas daerah dan maju mewakili Indonesia di tingkat ASEAN. 

Meski sudah banyak prestasi yang ditorehkan Allisha, hal tersebut tak lantas menyelematkan Allisha dari situasi pandemi covid-19. Allisha juga turut terdampak dan mengalami penurunan revenue. Namun, Allisha tidak kehabisan inovasi. Kini startup tersebut membuat berbagai macam produk kuliner instan khas nusantara seperti ayam betutu, pepes, bebek bumbu hitam, rica entog, cumi cabe ijo dan berbagai menu lainnya. Aneka kuliner tersebut dapat diperoleh melalui media sosial dan e-commerce Allisha Food.

Penulis: Andi Azhari Putra, S.P
Direktorat Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi
Deputi Bidang Penguatan Inovasi Kemenristek/BRIN

Sumber: Titin Agustinah (Co-Founder Allisha Sate Amba/ CV Allisha Food)