SIARAN PERS

Nomor : 18/SP/HM/BKKP/I/2020

Jakarta – Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN), Bambang P.S. Brodjonegoro meminta Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) untuk fokus dalam pengembangan satelit di Indonesia secara lebih masif. Ia berharap LAPAN dapat memprioritaskan pengembangan satelit dan penguasaan teknologi pemantauan ke depan yang tidak hanya penguatan sistem komunikasi, tapi juga kepentingan keamanan serta komersial.

“Diharapkan adalah penguasaan teknologi, sehingga LAPAN memiliki konsentrasi terhadap satelit dan memprioritaskan. Tentunya diharapkan adalah satelit yang nantinya punya kapasitas besar yang tidak hanya digunakan untuk keperluan pertahanan tapi juga kepentingan komersial,” terang Menteri Bambang dalam sambutannya saat menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Citra Satelit Penginderaan Jauh 2020, di Sari Pan  Pacific Jakarta (28/1).

Menteri Bambang menyebutkan saat ini Indonesia masih bergantung pada “provider” ataupun pemilik satelit yang umumnya berasal dari luar, sehingga mengimpor jasa dari pemanfaatan satelit dari luar negeri. Menteri Bambang berharap Indonesia dapat berupaya meningkatkan kemampuan dalam negeri untuk menyediakan citra satelit, sehingga memaksimalkan kemandirian bangsa untuk pemanfaatan satelit yang harus dicapai untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

“Kita sebagai negara yang berada di garis khatulistwa banyak memiliki keistimewaan. Selain memiliki iklim tropis, curah hujan dan suhu stabil tapi juga memiliki keistimewaan lain. Indonesia merupakan lokasi yang strategis untuk membangun bandar antariksa peluncuran roket,” jelasnya.

Selain itu, Menteri Bambang juga mengungkapkan Indonesia dirasa perlu memiliki dan mengembangkan sebuah alat teknologi yang berdampak pada kemajuan serta ketahanan negara. Misalnya pesawat tanpa awak, atau drone. Ia menyebutkan depan Indonesia melalui Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) perlu memfokuskan untuk menghadirkan teknologi _drone yang_ akan menjadi tren di masa mendatang.

Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin membenarkan bahwa Menteri Bambang telah mengarahkan LAPAN agar fokus pada teknologi keantariksaan pengembangan satelit didukung dengan pengembangan pesawat tanpa awak (drone), karena drone dan satelit merupakan satu bagian yang integral untuk sistem pemantauan. Ia menyebutkan LAPAN menjadi koordinator dalam program pengembangan satelit dalam Prioritas Riset Nasional 2020-2024, yaitu membuat satelit komunikasi orbit rendah konstelasi.

“Pada prioritas riset nasional nanti, tentu di dalamnya bukan hanya untuk komunikasi tapi satelit untuk penginderaan jauh juga menjadi program yang terus dilanjutkan,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut LAPAN juga meluncurkan sistem informasi pemantau kebakaran lahan dan hutan terbaru berbasis website dan aplikasi mobile. Kepala LAPAN Thomas menyebutkan citra satelit saat ini menjadi kebutuhan yang harus ada untuk rencana detil tata ruang, pembangunan, deteksi awal kebencanaan, dan kerusakan lingkungan termasuk tanggap darurat ketika terjadi bencana. LAPAN bisa memberikan citra satelit dan bagaimana pemanfaataanya bisa dikoordinasikan.

“Terkait kebencanaan, kami bisa berikan peringatan dini terkait potensi kebakaran hutan. Kami menyediakan aplikasi LAPAN fire hotspot yang memberi koordinat panas yang bisa menjadi penyebab kebakaran hutan,” ujarnya.

Acara tersebut dihadiri oleh pemangku kepentingan dari berbagai litbang kementerian, lembaga pemerintahan terkait serta pemerintah provinsi, kabupaten dan kota.

Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik

Kemenristek/BRIN