Jakarta – Menurut WRI (World Research Institute) memprediksi bahwa pada tahun 2040 Indonesia bahkan dunia, akan terjadi krisis air permukaan skala besar. Krisis ini akan berdampak pada kekacauan ekonomi, sosial bahkan kematian. Penyebabnya adalah manusia tidak bersahabat baik dengan kesehatan lingkungan. Hal ini terbukti dengan explorasi air tanpa pemulihan, penggundulan hutan, pembangunan, dan pembuangan sampah di sumber air. Bukti nyata pun sudah terlihat dengan adanya banjir bandang, longsor bahkan kebakaran hutan. 

Io-pori hadir sebagai salah satu alternatif solusi dalam pencegahan terjadinya krisis tersebut yaitu dengan merawat dan memperbaiki dasar sumber air. Io-pori merupakan sebuah inovasi berupa serbuk aktif pemecah partikel tanah dan dapat meningkatkan porositas tanah serta juga bisa memperbaiki kualitas air yang bau dan kotor.

Io-pori menggunakan teknologi Ionik dan radiasi gamma. Secara garis besar, serbuk aktif Io-Pori ini mampu memperbaiki kualitas, kuantitas, serta volume permukaan air tanah secara alami dan sehat, sekaligus dapat me-restorasi sumber mata air yang tercemar limbah industri maupun limbah B3. Io-pori telah mengantongi hasil uji kualitas air dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur dan uji Kandungan Radiasi Nuklir dari BATAN yang menyatakan bahwa radiasi pada produk Io-pori dinyatakan aman dan tidak menyisakan banyak kandungan radioaktif sisa dari proses manufaktur, walaupun pembuatan produk ini menggunakan metode fisika nuklir.

Saat ini Io-pori terdiri dari dua varian, yaitu Io-pori Sumur dan Io-pori Lahan. Namun pada bulan Januari 2021 mendatang akan diluncurkan varian baru yaitu Io-pori Limbah. Io-pori Sumur ukuran 500 gram sangat cocok untuk sumur perkotaan atau sungai pesisir yang telah terkontaminasi dimana Io-pori ini dapat mengubah kejernihan air, warna, dan bau menjadi layak pakai dalam kurun waktu 2 x 24 jam.  Sementara Io-pori Lahan ukuran 1000 g sangat cocok untuk program pemerintahan atau instansi swasta untuk pengadaan embung, RTH (Ruang Terbuka Hijau) di pusat taman kota yang bertujuan meningkatkan daya resapan tanah sebagai bentuk pengendalian banjir. 

CEO CV. Aku Anak Bapak Ibu (CV. AABI), Muhammad Mughnii Caryophyllus Purnomo, mengatakan dengan dibantu tim yang masih satu keluarga, memahami betul bahwa pulihnya fungsi tanah sebagaimana mestinya akan sangat berpengaruh pada kelestarian lingkungan di masa akan datang. Visi dan Misi perusahaan ini tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata dalam menjalankan bisnis, tetapi juga ingin sekaligus membawa campaign perbaikan terhadap lingkungan terutama menyangkut restorasi tanah untuk meningkatkan sumber air permukaan dan memperbaiki kualitas air tanah itu sendiri.

Semenjak didirikan pada tahun 2016, CV AABI telah banyak berkembang dan semakin tumbuh berkat program Pendanaan Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi, dan memperoleh pendanaan sebanyak dua kali di tahun 2018 dan 2019. Program Kemenristek/BRIN ini telah membantu perusahaan dalam beberapa kapasitas, mulai dari permodalan, jaringan (networking) untuk memasarkan produk, serta pengembangan soft skills untuk CEO dalam memimpin perusahaan.

Hingga saat ini, beberapa project telah dilaksanakan diantaranya dengan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur (2018-2019) di Batu, Malang, Jawa Timur, dalam hal konservasi hutan tanaman pinus agar tidak longsor. Selain itu, kerja sama dalam peningkatan baku mutu air di sungai Sumber Brantas juga dilakukan pada tahun 2018 dengan Perum Jasa Tirta II.

Kerjasama yang masih berjalan hingga saat ini adalah pengolahan limbah PT Greenfield Indonesia di Blitar, yang kasus pencemaran lingkungannya sempat membuat resah warga sekitar karena mencemari sungai dan PT Greenfield belum menemukan solusinya, hingga akhirnya kasus limbah ini ditangani oleh tim Io-Pori dan menunjukkan perbaikan serta mulai terurainya limbah dengan baik. Kerjasama pengolahan limbah ini telah disepakati dengan kontrak kerjasama selama 20 tahun mendatang. Kerjasama dan project terkait pembuatan embung juga dilakukan oleh CV AABI dengan ExxonMobil Bojonegoro dimulai tahun 2020 ini dan masih berjalan, project ini dilakukan untuk mendukung gerakan membuat 1500 embung salah satunya di Bojonegoro, dan banyak project kerjasama lingkungan lainnya yang dilaksanakan oleh tim Io-Pori (CV AABI)

Di masa pandemi ini, perusahaan harus bisa memutar strategi untuk tetap bertahan. Strategi yang digunakan adalah memperdalam Research and Development produk dengan menciptakan peluang produk baru. Langkah-langkah yang dilakukan lainnya yaitu dengan menghubungi klien lama untuk kolaborasi dalam project baru dan membuat gebrakan dengan berjualan secara online di marketplace serta membuat konten-konten edukasi mengenai lingkungan di sosial media. Harapannya, CV AABI lebih “bandel dan tahan banting” untuk menjadi startup yang kokoh dalam segala kondisi bisnis.

Penulis : Mega Fatimah

Direktorat Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi
Deputi Bidang Penguatan Inovasi
Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional

Sumber Data : CV AABI (Dokumentasi Internal Io-Pori)