Jakarta- Peneliti Pusat Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Dr. Rhorom Priyatikanto, M.Si menjadi pembicara dalam kelas mitigasi bencana yang digelar secara daring yang disebut sebagai clubinar yang diinisiasi oleh Bandung Mitigasi Hub (BMH) dengan tema “Bencana Benda Jatuh Antariksa” pada Selasa (22/02).

Acara dimulai dengan Rhorom menyampaikan paparannya yang berjudul “Potensi Benda Jatuh Antariksa” dengan menjelaskan definisi Benda Antariksa sesuai dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan, yakni setiap benda, baik buatan manusia maupun benda alamiah yang terkait dengan keantariksaan.

Rhorom menambahkan, benda keantariksaan yang berpotensi untuk jatuh ke dalam atmosfer bumi dapat diklasifikasikan kedalam 2 kategori umum; buatan dan alami. Berdasarkan ukurannya, benda antariksa alami dapat diidentifikasi sebagai; asteroid / komet (besar); bolide / fireball (menengah); dan meteor (kecil). Sedangkan untuk benda antariksa yang berpotensi jatuh ke dalam atmosfer Bumi yang bersifat buatan, dapat diidentifikasi sebagai sampah antariksa, diantaranya adalah bekas roket, satelit, atau serpihannya yang dapat membahayakan satelit aktif atau jatuh ke permukaan Bumi.

Rhorom melanjutkan, bahwa sesuai dengan Annual Space Environment Report 2019 yang diterbitkan oleh European Space Agency (ESA), 5.560 roket diluncurkan, 9.600 satelit ditempatkan di orbitnya, diperkirakan 5.500 benda antariksa masih berada di orbitnya, namun hanya sekitar 2.300 yang masih berfungsi, dan total objek yang dipantau sebanyak 22.300, dengan massa total mencapai 8.800 ton.

Data tersebut sejalan dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan fasilitas yang didapat melalui aktifitas keantariksaan, seperti: internet, siaran televisi, siaran radio, prakiraan cuaca, Global Positioning System (GPS), dll, yang menyebabkan bertambahnya kepadatan populasi luar angkasa dan pada akhirnya akan meningkatkan kuantitas sampah antariksa.

Adapun resiko korban jiwa akibat benda antariksa jatuh adalah 1 hingga 3 jiwa per dekade, resiko korban jiwa yang relatif kecil didukung dengan fakta bahwa selama 60 tahun terakhir belum ada korban jiwa yang timbul akibat jatuhnya benda antariksa, namun resiko yang ada tentu akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya aktifitas antariksa yang juga meningkat, dan perlu diingat juga, sebuah tabung pecahan roket Falcon 9 dari SpaceX pernah menimpa kandang ternak dan menewaskan beberapa ekor ternak pada hari Senin Tanggal 26 September 2016 di Sumenep, Madura.

Donald Kessler (1978), seorang peneliti National Aeronautics and Space Administration (NASA) pernah mengemukakan sebuah skenario ketika kepadatan objek di orbit bumi rendah / Low Earth Orbit (LEO) begitu tinggi hingga tabrakan antar-objek bisa memunculkan tabrakan berantai dan menghasilkan serpihan angkasa yang meningkatkan kemungkinan adanya tabrakan lain, hal ini dikenal sebagai Kessler Syndrome.

Seiring dengan meningkatnya resiko dan aktifitas antariksa, selama lebih dari 1 dekade LAPAN mengoperasikan sistem informasi pemantauan benda jatuh antariksa buatan, dengan tambahan data dari katalog North American Aerospace Defense Command (NORAD) yang diintegrasikan sebagai data masukan. Informasi ini diperbaharui secara real-time dan dapat diakses melalui http://orbit.sains.lapan.go.id oleh masyarakat luas. Sistem ini juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi seandainya ada benda antariksa buatan yang dilaporkan jatuh di suatu tempat di Indonesia.

Pengembangan sistem informasi ini diharapkan dapat berfungsi sebagai sistem pendukung pengambilan keputusan / Decision Support System (DSS) Benda Jatuh Antariksa yang dapat membantu dalam memantau, mengidentifikasi, dan memberikan peringatan apabila ada benda antariksa buatan yang memiliki resiko yang tinggi dengan estimasi tingkat kerusakan yang besar.

Selanjutnya dengan melakukan pengamatan menggunakan teleskop optik yang beroperasi seperti di Kupang, Nusa Tenggara Timur yang telah beroperasi dan telah digunakan untuk memotret benda orbital, sistem ini diharapkan mampu mendukung space situational awareness (SSA), yakni pemetaan kondisi antariksa untuk mencegah tabrakan dengan satelit aktif, dan berkontribusi secara aktif pada International Asteroid Warning Network (IAWN) dalam rangka pencegahan malapetaka akibat tabrakan asteroid.

(Humas/FS)

sumber : https://www.lapan.go.id/post/6997/peran-lapan-dalam-mitigasi-bencana-benda-jatuh-antariksa