SIARAN PERS
Nomor: 016/SP/HM/BKKP/II/2021

Jakarta – Menteri Riset dan Teknologi/ Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan terapi plasma konvalesen merupakan alternatif tambahan untuk penanganan pasien Covid-19 di Indonesia saat ini. Terapi ini dapat berkontribusi untuk memperbesar atau meningkatkan peluang kesembuhan pasien.

“Pandemi Covid-19 ini belum selesai, oleh karena itu Kemenristek/BRIN terus berupaya menanggulangi pandemi dengan riset dan inovasi. Selain itu, kita selalu berupaya untuk membuat penularan atau jumlah yang terinfeksi itu menjadi lebih sedikit dan mendatar kurvanya. Hal lain yang bisa kita tonjolkan adalah peningkatan jumlah kesembuhan dan pengurangan jumlah kematian secara signifikan, di situlah terapi plasma konvalesen memainkan peranan penting,” jelas Menteri Bambang saat menjadi pembicara kunci pada  webinar virtual ‘Penanganan COVID-19: Harapan pada Plasma Konvalesen’ pada Kamis (11/2).

Menteri Bambang mengatakan, pihaknya mendorong agar Plasma Konvalesen bisa diakui untuk terapi penanganan Covid-19. Menteri Bambang berharap uji klinik yang saat ini sedang dilakukan dapat memperkuat peran terapi plasma konvalesen sebagai terapi alternatif pengobatan Covid-19.

“Mudah-mudahan kalau uji klinis sudah dilakukan semua, hasilnya bisa kita sampaikan, tentunya yang pertama melalui publikasi saintifik ya, untuk bisa dipahami oleh ahli kesehatan atau dokter-dokter di seluruh dunia. Kami berharap agar terapi plasma konvalesen bisa diakui, sehingga dapat meningkatkan upaya dalam penanganan pasien Covid-19,” jelas Menteri Bambang.

Menteri Bambang juga berharap lebih banyak penyintas COVID-19 yang mendonorkan plasmanya karena kebutuhan akan plasma konvalesen meningkat. Pendonor plasma konvalesen terbaik adalah penyintas COVID-19 yang sebelumnya pernah dirawat sebagai pasien COVID-19 berkategori sedang sampai berat. Sementara penerima donor plasma konvalesen adalah pasien COVID-19 yang tergolong kategori ringan menuju sedang.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono M mengatakan pemerintah terus menghimbau para penyintas untuk bersedia melakukan donor plasma konvalesen untuk membantu pasien Covid-19. Beliau menyebutkan Plasma konvalesen dipercaya dapat membantu menyembuhkan gejala Covid-19, sehingga diharapkan dapat mengurangi resiko kematian pada para penderitanya.

“Tahun 2021 ini diusahakan akan melengkapi kekurangan tahun 2020 dan mendapatkan tambahan lima rumah sakit lagi sehingga kita akan mempunyai populasi sampel yang cukup dan bisa mempunyai bukti analisis statistik yang kuat untuk memberikan rekomendasi penggunaan plasma konvalesen ini berdasarkan evidence based yang bisa dipertanggungjawabkan,” kata Wamenkes Dante.

Dalam sambutannya, Juru Bicara Pemerintah dalam Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan ia berharap terapi Plasma Konvalesen bisa digunakan di wilayah dengan kasus yang masih tinggi. Di antaranya Jawa, Bali, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Wiku juga mendorong agar Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet bisa digunakan sebagai salah satu sentral bank plasma konvalesen.

“Semoga para pakar bisa menemukan cara terbaik agar terapi plasma konvalesen ini evidence-based dan terdistribusi dengan baik di seluruh Indonesia. Terutama di kantong-kantong kasus Covid-19 yang jumlahnya banyak yaitu di daerah Jawa, Bali, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Kami juga mendorong Rumah Sakit Darurat COVID-19 Wisma Atlet sebagian salah satu sentral untuk bank plasma konvalesen. Dan ini sudah ditetapkan beberapa waktu yang lalu bersama juga dengan PMI dan lain-lain,” jelas Wiku.

Dalam webinar terungkap, saat ini Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman sedang mengembangkan metode yang lebih praktis dalam mengukur kadar antibodi netralisasi plasma konvalesen, riset ini diharapkan dapat mempercepat keputusan pemberian plasma konvalesen kepada penyintas Covid-19. Saat ini LBM Eijkman menjadi terdepan dalam penelitian plasma konvalesen, khususnya dalam hal pengukuran kadar antibodi netralisasi plasma. Pengukuran kadar antibodi netralisasi ini penting untuk menentukan donor plasma yang diberikan kepada pasien Covid-19 memadai atau tidak.

Pada akhir webinar disampaikan, pemerintah bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia serta berbagai pihak terkait untuk mengimbau para penyintas Covid-19 agar bersedia mendonorkan plasma konvalesen menyusul besarnya kebutuhan pasien yang sedang berjuang sembuh.

Dalam acara tersebut turut hadir Sekretaris Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia Irmansyah dan Ketua Konsil Kedokteran Indonesia Putu Moda Arsana bertindak sebagai moderator webinar.

Hadir sebagai narasumber Wakil Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Bidang Penelitian Translasional David Handojo Muljono dengan topik Perkembangan Terkini Terapi Plasma Konvalesen sebagai Terapi Tambahan Covid-19, Direktur Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Rujukan Rita Rogayah dengan topik Kebijakan Terapi Plasma Konvalesen, Kepala Unit Transfusi Darah (UTD) Pusat PMI Ria Safitri dengan topik Penyiapan Plasma Konvalesen, dr. Frans O.H Prasetyadi berbagi pengalaman Pemberian Terapi Plasma Konvalesen di RSPAL Dr. Ramelan Surabaya, dr. Khoirul Hadi berbagi pengalaman sebagai penyintas Covid-19 sebagai pendonor Plasma Konvalesen, serta tamu undangan lainnya yang hadir secara daring melalui zoom meeting.

Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik
Kemenristek/BRIN