SIARAN PERS
KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI/BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL
Nomor: 37/SP/HM/BKKP/III/2021

Jakarta – Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro berpartisipasi secara daring sebagai keynote speaker pada acara Webinar Matchmaking International Collaboration dengan tema “Multidimensional Poverty and Environmental Sustainability in Indonesia in the Recovery Process from Covid-19”, Kamis, (18/03). Acara webinar ini merupakan langkah awal untuk memperkuat kolaborasi riset antara peneliti Indonesia and UK dalam bidang kemiskinan, kesejahteraan dan lingkungan hidup. Acara webinar ini merupakan bagian dan kelanjutan UK-Indonesia Consortium for Interdisciplinary Sciences (UKICIS).

“Kemiskinan multidimensi tidak hanya sekedar isu sosial dan ekonomi, hari ini inovasi dan teknologi mempunyai peran penting dalam mengurangi permasalahan kemiskinan ini. Salain itu dalam isu kelestarian lingkungan yang perlu menjadi perhatian penting adalah perlu difokuskan pada penerapan ekonomi sirkular pada aktivitas penelitian dan penerapan pemenuhan kebutuhan akan energi. Saya yakini hal ini akan memenuhi tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) yang merupakan harmoni isu ekonomi, ekologi, dan sosial,” jelas Menteri Bambang.

Ide dasar dari kegiatan webinar matchmaking merupakan respon dan sebagai upaya untuk mencari solusi berdasarkan evidence based untuk mendorong proses pemulihan ekonomi nasional yang lebih cepat, berkelanjutan dan memberikan manfaat besar bagi seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Kondisi Pandemi Covid-19 telah meningkatkan pengangguran, kemiskinan, kerentanan dan berbagai masalah di segala aspek kehidupan manusia seperti hesehatan, pendidikan, nutrisi, sanitasi dan lingkungan. Kondisi pandemi Covid-19 akan berdampak terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Indonesia.

Kemenristek/BRIN mendukung kolaborasi penelitian lintas bidang antara Indonesia dan Inggris untuk mencari solusi inovatif mengatasi dampak negatif dari pandemi dan mendorong green, contactless, and sustainable economy pasca pandemi. Konsorsium peneliti Indonesia dari Universitas Indonesia, Universitas Gadjah, Univesitas Padjadjaran, serta kolega Universitas Oxford bertujuan untuk mempromosikan berbagi pengetahuan dan kerja sama dari berbagai bidang keahlian: antara lain ekonomi, kebijakan publik, teknik, teknologi, ilmu alam, dan pemetaan spasial.

“Harapannya dengan webinar ini akan terbangun dan turut menguatkan kolaborasi kerja sama dengan Universitas Oxford sebagai mentor dan partner dalam kaitannya meningkatkan kualtitas riset dan inovasi kita,” terang Menteri Bambang.

Rektor Universitas Indonesia Ari Kuncoro menegaskan tujuan acara ini adalah mempertemukan para peniliti dan ahli dari Indonesia dan UK untuk dapat bekerja sama dalam menemukan solusi yang inovatif terkait tantangan bersama menghadapi Covid-19 pada kemiskinan dan lingkungan hidup.

“Istilahnya muncul gotong-royong dari peneliti dan ahli di Indonesia dan UK dalam mendorong percepatan dan kestabilan penyusunan roadmap pemulihan ekonomi Indonesia menghadapi Covid-19. Solusi yang inovatif sangat dibutuhkan dan menjadi tantangan, dimana hanya bisa kita lakukan dengan kolaborasi bersama,” papar Ari Kuncoro.

Sebagai informasi, kemitraan Indonesia-Inggris dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi telah terjalin sejak tahun 2014, dan meluncurkan lebih dari 22 kompetisi pendanaan riset melalui 15 program riset dan inovasi serta menghasilkan 2.205 publikasi gabungan selama 2015-2019. Riset kolaborasi Indonesia-Inggris menduduki peringkat ke-3 di dalam daftar 10 kemitraan internasional terbaik Indonesia.

Indonesia dan Inggris sebelumnya telah sepakat memperpanjang kemitraan sampai tahun 2025, kolaborasi ini bertujuan mendukung kapasitas riset dan inovasi terkait pertumbuhan berkelanjutan jangka panjang melalui perluasan dan pemaksimalan kerja sama di bidang riset dan inovasi antara para pembuat kebijakan di pemerintahan, lembaga-lembaga pemerintah, organisasi-organisasi riset, institusi pendidikan tinggi, dan sektor swasta.

Hal tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerjasama (MoU) oleh Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang PS Brodjonegoro dan Menteri Ilmu Pengetahuan, Riset, dan Inovasi Inggris, Amanda Solloway MP pada 5 Agustus 2020 lalu.

Bidang sains, teknologi, dan inovasi adalah aspek penting dalam mendorong pertumbuhan dan perkembangan ekonomi. Contoh penelitian Indonesia-Inggris yang sudah berjalan meliputi riset tentang peningkatan hasil panen dan ketahanan pertanian terhadap perubahan iklim; memperkuat pertahanan dan kemampuan deteksi cuaca ekstrim; dan pencegahan penyebaran penyakit menular.

“Krisis global Covid-19 yang sedang kita hadapi ini telah menyadarkan kita semua pentingnya kolaborasi dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Saya merasa bangga dapat melanjutkan kemitraan Inggris dengan Indonesia untuk terus bekerja bersama mengatasi tantangan-tantangan global, dari mencegah penyebaran penyakit menular di masa depan hingga mengurangi jejak karbon global,” jelas Menteri Amanda Solloway kala itu.

Salah satu program kerja sama yang sudah berjalan sangat baik adalah Newton Fund, program yang didanai oleh Pemerintah RI dan UK untuk kegiatan riset dan inovasi berbasis bidang-bidang Iptek yang telah di setujui secara seksama oleh kedua belah pihak, sehingga output nya sangat bermanfaat bagi masyarakat di kedua Negara. Ke depan mekanisme keterlibatan diaspora Indonesia dalam program Newton Fund maupun program kerjasana RI-UK lainnya yang berbasis Institusi Pendidikan Tinggi patut dieksplorasi terutama bagi universitas yang punya minat riset sama dengan universitas di Indonesia.

Para pakar yang hadir dalam webinar ini adalah Sabina Alkire (Direktur Oxford Poverty and Human Development Initiatives (OPHI)/Professor Universitas Oxford), Dr. Putu Geniki Lavinia Natih (Peneliti di OPHI-Universitas Oxford), Dr. Teguh Dartanto (Ketua Klaster Riset Kemiskinan, Perlindungan Sosial dan Ekonomi Pembangunan, FEB Universitas Indonesia), Prof. Arief Anshori Yusuf (SDG Center Universitas Padjadjaran), Dr. Rimawan Pradiptyo (FEB Universitas Gadjah Mada), Dr. Masita Dwi Manessa (FMIPA Universitas Indonesia) dan Dr. Ahmad Gamal (FT Universitas Indonesia).

Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik
Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional