SIARAN PERS

Nomor: 171/SP/HM/BKKP/XI/2020

Jakarta – Menteri Riset dan Teknologi/ Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan pemberian vaksin ke masyarakat bukan satu-satunya solusi tangani COVID-19, namun tetap diperlukan dalam rangka menciptakan kekebalan massal hadapi pandemi COVID-19. Menteri Bambang berharap pengembangan Vaksin Merah Putih dapat berjalan lancar, dengan demikian izin edar vaksin karya anak bangsa itu  dapat diperoleh pada awal 2022.

“Vaksin bukan satu-satunya solusi tangani COVID-19, namun tetap diperlukan untuk menciptakan kekebalan massal atau herd immunity. Tidak mungkin mencapai kekebalan massa tanpa pemberian vaksin. Kekebalan massal dapat terwujud apabila dua per tiga atau kurang lebih 70 persen dari total penduduk Indonesia diberikan vaksin,” jelas Menteri Bambang dalam seminar virtual Harmonisasi Triple Helix: Kemandirian dan Kedaulatan Produk Inovasi Nasional, Jakarta, Kamis (5/11).

Lebih lanjut menteri Bambang menyampaikan perlu adanya standardisasi uji klinis nasional termasuk untuk obat, terapi, dan vaksin guna memudahkan kegiatan pengembangan hingga hilirisasi riset. Dalam diskusinya dengan beberapa perusahaan-perusahaan farmasi, Menteri Bambang mengetahui perusahaan farmasi memiliki semangat inovasi tinggi namun menghadapi tantangan dalam melakukan uji klinis sehingga perlu ada standardisasi untuk memudahkan mereka dalam melakukan kegiatan riset dan pengembangan serta inovasi ke depan.

“Perlunya adanya standardisasi untuk _clinical trial_ (uji klinis) secara nasional, ini menjadi sangat mendesak. Bahkan perusahaan-perusahaan farmasi tersebut menyarankan agar Indonesia memiliki semacam pusat nasional untuk uji klinis ( national center for clinical trial),” ungkap Menteri Bambang.

Menteri Bambang menjelaskan, uji klinis tingkat nasional artinya termasuk bagaimana menentukan ethical clearance (kelayakan etik) dan proses uji klinis segala macam sehingga semuanya terstandar.

Menteri Bambang menyakini kemampuan industri farmasi di Indonesia, namun tentunya difasilitasi dengan kemudahan dalam melakukan kegiatan riset dan pengembangan termasuk terkait vaksin yang saat ini dibutuhkan untuk pencegahan COVID-19.

“Kalau semua memiliki standar maka ini akan memberikan kepastian dan semangat inovasi yang lebih tinggi, riset, dan pengembangan yang lebih tinggi bagi perusahaan farmasi. Tentunya tanpa mengesampingkan masalah safety (keamanan) dan masalah efficacy (kemanjuran) yang dari obat, terapi atau vaksin yang diuji coba,” tutur Menteri Bambang.

Triple Helix: Kemandirian dan Kedaulatan Produk Inovasi Nasional

Kemenristek/BRIN berperan strategis dalam upaya penguatan ekosistem triple dalam pencapaian menemu-kembangkan produk inovasi teknologi. Seminar virtual bertajuk Harmonisasi Triple Helix : Kemandirian dan Kedaulatan Produk Inovasi Nasional merupakan webinar yang disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube Kemenristek/BRIN. Webinar membahas kebijakan dan program dalam mendukung pengembangan dan penguatan iptek dan inovasi, menuju kemandirian dan kedaulatan produk inovasi nasional. Triple Helix melibatkan unsur pemerintah sebagai pemangku kebijakan, pelaku pengembang inovasi maupun dunia industri, dalam rangka menciptakan ekosistem inovasi untuk daya saing bangsa.

Menteri Kesehatan (Menkes)Terawan Agus Putranto sebagai salah satu pembicara kunci dalam webinar tersebut mengatakan bahwa Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendukung berbagai inovasi dalam penanganan pandemik COVID-19 di Indonesia termasuk pengembangan alat kesehatan dan vaksin. Menteri Terawan menjelaskan, pihaknya mengapresiasi kolaborasi riset dan siap mendukung jika perlu ada relaksasi aturan dalam rangka mendorong kemandirian dan ketahanan nasional di bidang farmasi dan alat kesehatan.

“Kolaborasi riset dilakukan untuk sinergi dari penelitian sehingga tujuannya terjadi efisiensi dan efektifitas dalam penggunaan anggaran berdasarkan aspek kemandirian obat dalam negeri untuk kepentingan nasional,” jelas Menteri Terawan

Menteri Terawan menyebutkan akan turun tangan menangani penerapan plasma convalescent antara PMI dan rumah sakit,  menjawab adanya ketidakharmonisan antara Palang Merah Indonesia (PMI) dan rumah sakit dalam pelaksanaan plasma convalescent yang disampaikan oleh Kepala LBM Eijkman Amin Soebandrio. Diketahui pengobatan tersebut adalah cara untuk menekan tingkat kematian penderita COVID-19.

Sementara itu, pembicara kunci berikutnya Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto mengatakan bahwa Kementerian Perdagangan (Kemendag) berkomitmen membantu pemasaran produk inovasi lokal terutama ke mancanegara. Beliau menyebutkan

inovasi merupakan salah satu kunci untuk dapat bertahan dan mendapatkan peluang, serta meningkatkan ekspor di tengah pandemi COVID-19. Berbagai upaya terus dilakukan salah satunya menjalin kerja sama dengan pebisnis di luar negeri melalui atase perdagangan.

Dalam kesempatan tersebut turut hadir Sesmenristek/Sestama BRIN Mego Pinandito, dan Staf Ahli Bidang Relevansi dan Produktivitas Ismunandar. Hadir sebagai pemateri Direktur Utama Penelitian dan Pengembangan Biofarma Neny Nuraini, Ketua Ikatan Dokter Indonesia Daeng M Faqih, Direktur Registrasi Obat Badan Pengawas Obat dan Makanan Lucia Rizka Andalusia, Kepala LBM Eijkman Amin Soebandrio, dan Direktur Fasilitas Pelayanan Kesehatan Kemenkes Andi Saguni. 

Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik

Kemenristek/BRIN