SIARAN PERS
Nomor: 014/SP/HM/BKKP/II/2021

Jakarta – Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro paparkan kemajuan hasil riset dan inovasi yang dikembangkan anak bangsa dalam rangka upaya pengendalian Covid-19 di Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Bambang pada saat menghadiri Rapat Kerja dengan Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta (3/2). Rapat kerja ini membahas hasil riset dan inovasi dalam rangka Pengendalian Covid-19 dan vaksin Merah Putih.

“Pandemi Covid-19 yang kita hadapi saat ini merupakan momentum kemandirian riset dan inovasi Indonesia. Oleh karena itu Kemenristek/BRIN terus mendorong penguatan sinergi triple helix demi kemandirian riset dan inovasi alat-alat kesehatan dan obat-obatan, dengan melibatkan berbagai pihak seperti universitas dan industri,” terang Menteri Bambang.

Menteri Bambang mengatakan, sudah ada lebih dari 60 produk yang dihasilkan Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 selama satu tahun. Produk-produk tersebut dikategorikan menjadi beberapa kategori, seperti :

  1. Aspek pencegahan (suplemen kesehatan/ imunomodulator herbal yang telah diuji secara bertahap, dan dikembangkan menjadi fitofarmaka);
  2. Aspek screening (Uji CePAD Antigen dan GeNose C19);
  3. Aspek obat dan terapi ( Mesenchymal Stem Cell dan Terapi Sel Punca);
  4. Aspek sosial dan humaniora.

Komisi IX DPR RI dalam hal ini mendukung penuh hasil riset dan inovasi dalam penanganan Covid-19 di bawah koordinasi Konsorsium Riset dan Inovasi Kementerian Ristek/BRIN. Komisi IX DPR berharap Kementerian Kesehatan dapat melakukan terobosan kebijakan agar hasil riset tersebut dapat segera digunakan dalam pelayanan di seluruh fasilitas kesehatan melalui katalog elektronik (E-katalog).

“Kami selaku pimpinan dan anggota komisi IX DPR mengapresiasi atas kehadiran Menristek dan paparan hasil riset yang luar biasa. Kita juga perlu terus di update apa yang sudah dilakukan dan sedang dilakukan terutama terkait Covid-19. Komisi IX berkomitmen untuk memberikan support karya riset ini agar berjalan dengan baik dan hasilnya langsung bisa digunakan,” ujar Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh.

Lebih lanjut menanggapi pertanyaan dari para anggota Komisi IX DPR, Menteri Bambang menyampaikan saat ini peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) sudah berhasil mengembangkan alat deteksi cepat Covid-19 yang diberi nama GeNose C19.

“GeNose sudah diuji validasinya dengan 2.000 sampel dan akurasinya sudah 90 persen. Semakin banyak dipakai alat ini akan semakin akurat karena akan selalu di update oleh tim dari UGM. Namun, hadirnya GeNose ini bukan untuk menggantikan tes usap polymerase chain reaction (PCR), hanya sebagai penyaring atau screening saja,” jelas Menteri Bambang.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono mengatakan, penelitian biomolekuler SARS CoV-2 merupakan hal penting karena menjadi salah satu modal kuat untuk melakukan pemeriksaan dan tindakan di hulu penanganan Covid-19. Beliau mengatakan, ada lima hal yang tengah dikerjakan oleh Kementerian Kesehatan dalam upaya mengurangi penularan Covid-19. Kelima hal tersebut adalah pengembangan jejaring laboratorium pemeriksaan Covid-19, penelitian biomolekuler SARS CoV-2, penelitian uji klinis obat, monitoring evaluasi efektivitas vaksin, serta penelitian diagnosis. Oleh karena itu, untuk melakukan evaluasi, Kemenkes akan melakukan tindakan implementatif lainnya untuk membuat laboratorium tersebut tersebar di seluruh Indonesia dengan lebih merata, sehingga pemeriksaan lebih terkoordinasi, efektif, dan luas.

“Itu akan kami kerjakan sehingga testing di Indonesia akan lebih menggambarkan hasil lebih spesifik seluruh wilayah Indonesia, karena saat ini masu terfokus di kota besar saja. Setelah testing, kemudian kita melakukan tracing, dan akhirnya menjadi treatment. Jadi testing adalah modal kuat untuk melakukan tracing,” paparnya.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan akan mendukung penelitian terkait Covid-19 melalui dana yang dialokasikan sekitar Rp700 Miliar untuk riset vaksin, alat kesehatan, obat-obatan dan Whole Genome Sequencing. “Saya sudah bilang kepada Ibu Sri Mulyani bahwa uang ini tidak akan semua ditaruh di Kemenkes tapi untuk penelitian sektor kesehatan,” ujarnya.

Terkait vaksin Merah Putih, Komisi IX DPR RI sendiri meminta Kemenristek/BRIN dan Kemenkes untuk berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan agar proses pengembangan vaksin ini dapat dipercepat. Menteri Bambang menyebutkan bahwa pada akhir Maret tahun 2021 ini bibit vaksin dari LBM Eijkman akan diserahkan kepada PT Bio Farma untuk proses lebih lanjut. Pihaknya akan terus berupaya untuk mendorong percepatan vaksin bekerjasama dengan PT Bio Farma.

Kepala LBM Eijkman Amin Soebandrio menyebutkan salah satu kendala terkait pengembangan Vaksin Merah Putih adalah kesiapan industri. “Kendala yang bisa melakukan hilirisasi dari hasil penelitian saat ini baru ada Bio Farma yang siap. Tetapi kita harapkan bahwa ada beberapa perusahaan farmasi yang akan segera meningkatkan fasilitasnya sehingga bisa melakukan industrialisasi Vaksin Merah Putih ini,” ujarnya.

Turut hadir dalam Rapat Kerja Komisi IX DPR RI tersebut Kepala LBM Eijkman Amin Soebandrio, Rektor Universitas Gadjah Mada Panut Mulyono, Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 Ali Ghufron Mukti, serta para anggota Komisi IX DPR RI yang hadir secara langsung dan virtual melalui zoom meeting.

Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik
Kemenristek/BRIN