SIARAN PERS
KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI/BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL
Nomor: 34/SP/HM/BKKP/III/2021

Jakarta – Salah satu topik utama dalam kegiatan pengembangan riset dan inovasi terkait pembangunan rendah karbon adalah ekonomi sirkular, dimana mengusung prinsip use, return, and make. Konsep ekonomi sirkular sudah mulai diterapkan di Indonesia karena banyak manfaat yang dihasilkan dan berpotensi dalam mendorong substitusi impor di berbagai sektor. Konsep ekonomi sirkular bukan hanya mendesain model industri dengan prinsip zero waste, tetapi juga fokus terhadap faktor sosial dan penyediaan sumber daya maupun energi yang berkelanjutan.

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) terus mendorong hilirisasi riset dan inovasi yang peduli akan kelestarian lingkungan. Ekonomi sirkular yang berfokus pada penggunaan optimal dari sumber daya dalam aspek produksi hingga konsumsi dan dapat menjadi solusi atas sampah serta untuk memenuhi kebutuhan energi berbahan dasar limbah.

“Kita tidak hanya bisa memakai teknologi yang eksis, teknologi yang memang didedikasikan untuk menghilangkan sampahnya, kita harus mendorong inovasi agar penerapan ekonomi sirkular ini benar-benar bisa tidak cuman menghilangkan sampahnya namun memberi manfaat kepada masyarakat. Pengertian eknomi sirkuler itu limbah yang tadinya residu diubah menjadi input baru,” jelas Menristek/Kepala BRIN saat menjadi Keynote Speaker pada Webinar ‘Inovasi dalam Ekonomi Sirkular dan Keterangan Publik Produk Inovasi Biokenversi’, Jumat, (12/03).

Menteri Bambang memberikan beberapa contoh penerapan atau aplikasi pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular, yaitu pertama Aplikasi Rapel dari PT Wahana Anugerah Energi, suatu aplikasi penjual sampah anorganik yang masih memiliki nilai jual dan telah dipilah menurut jenisnya oleh pemilik sampah yang menjadi pengguna aplikasi. Kedua, Pupuk Hayati Cair Biokonversi dari PT Bio Konversi Indonesia, yang melahirkan alternatif kebutuhan pupuk di Indonesia dan merupakan salah satu program Prioritas Riset Nasional (PRN) bidang Ketahanan Pangan. Kemudian ada Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Merah Putih di Bantar Gebang yang merupakan pilot project kerja sama Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta dengan BPPT.

“Kita jadikan ekonomi sirkular sebagai mainstream dalam upaya kita untuk memitigasi perubahan iklim menjadikan Indonesia lebih bersih dan menciptakan keseimbangan antara ekonomi, sosial dan ekologi sehingga akhirnya pengolahan sampah tidak lagi menjadi sesuatu yang menyusahkan, apalagi dihindari namun dilihat prospek bisnis yang menjanjikan di masa depan dan membantu pemeritah setempat membersihkan lingkungannya, serta memberikan manfaat masyarakat di sekitar,” ujar Menteri Bambang.

Pada kesempatan ini, Sekretaris Kemenristek/Sekretaris Utama BRIN Mego Pinandito menyampaikan pengelolaan sampah berkelanjutan dalam melahirkan alternatif kebutuhan masyarakat merupakan bagian ekonomi sirkular. “Dulu sampah hanya menjadi sampah saja atau waste to waste, maka sekarang juga dapat menjadi energi atau waste to energy. Pengolahan sampah bisa dikategorikan sebagai ekonomi sirkular, yaitu proses produksi yang tidak pernah berhenti dan berupaya menghasilkan zero waste,” terang Mego Pinandito.

Plt. Deputi Bidang Penguatan Riset dan Pengembangan Ismunandar mengungkapkan transisi menuju ekonomi sirkular membutuhkan dukungan lintas sektor jangka panjang yaitu kolaborasi sinergi triple helix dan dukungan ekosistem inovasi agar mendorong ide inovatif menjadi produk komersialisasi. “Kemenristek/BRIN melakukan proses yang kita sebut tirple helix sebagai cara kerja kita jadi apapun yang kita lakukan itu adalah kolaborasi dari akademisi, pemerintah, dan industri,” ungkap Ismunandar.

Turut hadir dalam webinar ini sebagai narasumber Deputi Bidang Ekonomi BAPPENAS Amalia Adininggar W, Direktur Pangan dan Pertanian BAPPENAS Anang Noegroho SM, Wakil Rektor IPB Bidang Internasionalisasi, Kerja Sama, dan Hubungan Alumni Dodik R Nurrochmat, Direktur Utama PT Bio Konversi Indonesia Isra Darma, sebagai pembahas Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya KHLK Rosa Vivien Ratnawati, dan Tjandra Setiadi dari ITB, serta dimoderatori Tenaga Ahli Menteri Bidang PRN Kemenristek/BRIN Muhammad Dimyati, dan Direktur Pengembangan Teknologi Industri Kemenristek/BRIN Hotmatua Daulay, dihadiri undangan dari Kementerian dan Lembaga terkait serta perwakilan sektor industri dan akademisi perguruan tinggi di Indonesia.

Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik
Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional