Jakarta – Indonesia merupakan wilayah kepulauan yang memiliki banyak potensi bencana. Sejak awal bulan Januari yaitu tanggal 1 hingga 26, tercatat sebanyak 221 bencana telah terjadi di Indonesia. “Mengingat tingginya ancaman bencana di Indonesia maka LIPI tergerak untuk melakukan penelitian terkait bencana pada spektrum yang luas. LIPI fokus melakukan penelitian pada tiga aspek yaitu mitigasi, kesiapsiagaan, dan penanganan pasca bencana,” ungkap Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Laksana Tri Handoko pada Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana Tahun 2021, Kamis (4/3).
 
Handoko menyampaikan bahwa riset yang fundamental sangat penting karena menjadi dasar landasan untuk melakukan mitigasi bencana dengan lebih baik. Menurutnya, mitigasi bencana selalu didasarkan pada pemodelan dan pengetahuan sebelumnya. “Mitigasi juga dapat dilakukan sesuai dengan karakter lokasi potensi bencana dan potensi resikonya, sehingga mitigasi bencana dapat dilakukan dengan lebih baik,” tuturnya.
 
Dalam pemaparannya Handoko mengungkap beberapa teknologi dan migasi bencana yang telah diteliti dan dikembangkan oleh LIPI. “Kami memiliki teknologi Drainase Siphon dan LIPI Wiseland.  teknologi Drainase Siphon adalah bagaimana mengubah aliran air yang ada dibawahnya, sehingga tidak mengganggu bidang luncur yang berpotensi menimbulkan longsor dikemudian hari,” ungkapnya. “Sejatinya bencana longsor dapat dicegah bila kita memahami aliran air yang ada. LIPI Wiseland hadir untuk  pencegahan bencana longsor, sebab teknologi ini mampu memantau ancaman tanah longsor yang berbasis pada sensor nirkabel. teknologi ini dapat digunakan sebagai peringatan dini terhadap bencana longsor,” papar Handoko lebih lanjut.
 
Sebagai informasi, aspek riset dari pengelolaan bencana telah diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 93 tahun 2019, tentang penguatan dan pengembangan sistem informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami. Handoko menyampaikan bahwa sesuai dengan Perpres yang ada untuk pengurangan risiko bencana, maka sejak 2015 sampai 2030 LIPI sebagai lembaga penelitian mengemban dua tugas.  “Tugas LIPI tersebut adalah memahami risiko bencana dan meningkatkan manajemen risiko. Kedua hal ini diharapkan dapat mengurangi risiko dan kerugian yang timbul secara signifikan jika terjadi bencana,” sebutnya.
 
“Ternyata, beberapa kali kejadian tsunami di Indonesia memiliki short lead-time tsunami yang cukup pendek yaitu kurang dari 10 menit,” tutur Handoko. Menurutnya, short lead time tsunami dapat diartikan sebagai jarak waktu terjadinya gempa dengan kejadian tsunami. “Kondisi ini di antaranya telah terjadi di Aceh, Selat Sunda, dan Palu,” sambungnya. Lebih jauh dirinya berharap bahwa dengan adanya pengetahun ini maka mitigasi bencana dapat dilakukan dengan lebih baik dan disesuaikan dengan kejadian sebelumnya.
 
Dalam hal informasi gempa bumi, lebih dalam Handoko mengungkap bahwa sebagian besar identifikasi patahan atau sesar belum diverifikasi dengan melakukan penelitian dilapangan yaitu eksplorasi ataupun penelitian di laboratorium. “Sayangnya sampai saat ini baru dilakukan melalui pemetaan dengan citra satelit atau radar,” ungkapnya.
 
Selain gempa dan tanah longsor LIPI juga melakukan penelitian terkait bencana gelombang laut. Hal ini, menurut handoko, sangat penting karena Indonesia dikelilingi oleh laut dan kegiatan ekonomi sangat banyak yang berhubungan dengan laut.  “Melalui penelitian yang dilakukan dapat dibuatkan informasi peringatan mengenai jalur jalur laut yang aman. Informasi ini dapat memberikan kewaspadaan kepada para pengguna laut untuk mengurangi angka kecelakaan di laut,” terang Handoko. 
 
Untuk penanganan bencana, LIPI melakukan penelitian yang berkaitan dengan ketersediaan air bersih dan pengalengan makanan.  LIPI menawarkan teknologi ‘Banyumili’ untuk ketersediaan air bersih pada daerah yang terdampak bencana. “Seperti kita ketahui, air bersih merupakan suatu kebutuhan yang sulit untuk dipenuhi pada daerah yang sedang terdampak bencana. Selain itu berbagai makanan juga telah berhasil dikemas oleh LIPI sehingga menjadi praktis untuk didistribusikan dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat korban bencana,” papar Handoko.
 
Di akhir presentasinya Handoko mengutip ungkapan dari Adrin Tohari salah seorang peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI. “Mitigasi bencana yang efektif perlu berbasis pada ilmu pengetahuan dan kearifan lokal karena sejatinya sejak dahulu para leluhur kita hidup berdampingan secara harmonis dengan alam, dengan memperhatikan gejala dan tanda tanda dari alam,” kutipnya. (eb/ ed: drs)
 
Sumber : Humas LIPI

http://lipi.go.id/berita/LIPI-Fokuskan-Tiga-Aspek-pada-Riset-Kebencanaan/22349