Siaran Pers Kemenristek/BRIN
Nomor: 26/SP/HM/BKKP/II/2020

Jakarta – Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro memastikan zat radioaktif Cesium-137 atau Cs-137 yang tersebar di salah satu tanah kosong Perumahan Batan Indah di Serpong (Tangerang Selatan) bukan akibat dari kebocoran Reaktor Serba Guna Gerrit Augustinus Siwabessy (RSG-GAS) di Kawasan Nuklir Serpong (KNS), Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Serpong.

“Kontaminasi bahan radioaktif ini bukan akibat dari kebocoran fasilitas reaktor nuklir yang ada di Kompleks Puspiptek, Serpong. Ini sangat jelas penanganan kompleks reaktor nuklir sudah berjalan dengan sangat baik dan tidak ada kebocoran yang berimbas kepada wilayah lain. Apalagi wilayah Perumahan Batan Indah ini cukup jauh dari kompleks reaktor,” ungkap Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro saat konferensi pers di Ruang Rapat Lantai 24 Gedung II BPPT, Jakarta Pusat pada Selasa (18/2).

Perumahan Batan Indah dimana radiasi radioaktif ditemukan berjarak sekitar tiga kilometer dari Reaktor Serba Guna GA Siwabessy milik Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) di KNS. Menteri Bambang menjelaskan Reaktor BATAN di KNS, Puspiptek dalam kondisi aman berdasarkan pengawasan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN), namun Menristek/Kepala BRIN mengerti masyarakat belum banyak mengetahui kondisi keamanan nuklir di Tangerang Selatan tersebut.

“Mungkin banyak pihak yang belum paham mengenai wilayah Puspiptek Serpong dan Batan Indah, menyangka ini barangkali akibat dari kebocoran tapi jawabannya pasti tidak apalagi jaraknya memang tidak bisa dibilang dekat,” ungkap Menteri Bambang di hadapan puluhan media.

Saat ini BAPETEN sudah bekerja sama dengan Kepolisian untuk menginvestigasi mengapa zat radioaktif tersebut bisa berada di daerah pemukiman.

“BAPETEN sudah bekerja sama dengan Kepolisian untuk melakukan investigasi atau penyelidikan sumber dari bahan radiaktif tersebut karena memang tidak lazim ditemukan bahan radioaktif di wilayah yang relatif jauh dari pembangkit atau reaktor nuklir dan juga bukan tempat resmi untuk limbah nuklir,” ungkap Menteri Bambang.

Dalam kesempatan ini Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) Jazi Eko Istiyanto mengungkapkan BAPETEN terus mengawasi Reaktor Serba Guna GA Siwabessy (RSG-GAS) sesuai ketentuan International Atomic Energy Agency (IAEA), termasuk dengan memasang dan mengawasi melalui sembilan detektor radiasi di sekitar reaktor.

“Kami memasang sembilan detektor di Kompleks BATAN di Puspiptek Serpong. Kalau ada apa-apa di situ, misalnya kebocoran maka detektor kami langsung menotifikasi kami bahwa ada sesuatu tidak beres. Pada saat itu tidak tercatat (radiasi) itu. Yang kita lakukan adalah membawa detektor mobile kemudian kita bawa berjalan keliling lalu menemukan di Batan Indah. Ini klasifikasinya bukan kecelakaan nuklir. Klasifikasinya adalah pencemaran limbah radioaktif lingkungan jadi bukan kecelakaan nuklir, bukan kedaruratan nuklir jadi jauh sekali dibandingkan kecelakaan Chernobyl atau Fukushima,” ungkap Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) Jazi Eko Istiyanto.

BAPETEN sudah meminta BATAN untuk membersihkan seluruh zat radioaktif yang ada di lokasi radiasi.

“Saat ini tanahnya sudah dilakukan pengerukan oleh BATAN dan kemudian dipindahkan ke Pusat Teknologi Limbah Radioaktif di BATAN sehingga itu sudah menurun. Nanti insya Allah dalam beberapa hari ini kita deklarasi bahwa itu sudah clear,” ungkap Kepala BAPETEN.

BATAN saat ini sudah melakukan dekontaminasi atau pembersihan zat radioaktif dari lokasi radiasi selama paling empat hari terakhir.

“Tugas BATAN dalam hal mendekontaminasi itu dilakukan saat BAPETEN mengatakan ini segera perlu didekontaminasi. Tim kami pun melakukan hal yang sama. Kami sudah melakukan sejak 12 Februari, kemudian 13 Februari, 16 Februari, dan 17 Februari,” ungkap Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Anhar Riza Antariksawan.

BATAN sudah menyediakan ratusan drum untuk mengumpulkan tanah dan tanaman yang terpapar zat radioaktif untuk kemudian diolah di Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR) BATAN di KNS, Puspiptek.

“Yang kami lakukan adalah membersihkan tanah-tanah yang sudah diindikasikan terkontaminasi dan menimbulkan paparan. Kami sudah mengumpulkan itu sejak empat hari tadi sebanyak tidak kurang seratus drum ukuran seratus liter berisi tanah yang terkontaminasi dan juga ada tujuh drum berukuran 150 liter untuk menampung tanaman-tanaman yang ada di situ,” ungkap Kepala BATAN.

Lokasi radiasi Perumahan Batan Indah saat ini sudah dibatasi oleh garis kuning. Radiasinya tercatat terus berkurang seiring upaya dekontaminasi terus berlanjut.

“Dari paparan yang di awal dari jarak satu meter ordenya 140 mikro Sievert per jam itu turun drastis di sekitar 28 mikro Sievert per jam per kemarin. Hari ini mudah-mudahan jauh lebih turun dari itu. Ini memang masih cukup tinggi sehingga kami akan tetap lakukan termasuk juga dengan tanaman yang ada di sana yang kami akan bersihkan. Sejauh ini daerah-daerah di sekitarnya di jalan di sekitarnya semuanya sudah bisa digunakan oleh warga setempat untuk beraktivitas. Hanya kemudian daerah yang lebih sempit sekitar 33 meter per segi saja yang itu kita batasi, daerah yang masih kita kurangi lagi paparan radiasinya,” ungkap Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Anhar Riza Antariksawan.

Dalam kesempatan ini Walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany menyatakan mempercayai segala pihak yang mengupayakan dekontaminasi zat radioaktif dan berharap upaya tersebut dapat dicapai dalam waktu singkat.

“Di sana ada satu RW, 21 RT, ada kepala keluarga hampir seribu dan jumlah warga sekitar lima ribuan. Ada anak-anaknya sekitar lima ratus dan juga orang dewasa. Tadi saya ke sana dan mereka mempercayai. Mari kita percayai apa yang sudah dilakukan BAPETEN dan BATAN yang memiliki kompetensi dan kemampuan. Tentu di satu sisi bagaimana kita mendorong dengan kompetensi kami untuk segera menyelesaikan dekontaminasi. Kami tentu berharap tidak sampai 20 hari sehingga bisa selesai,” ungkap Walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany.

Selain Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) Jazi Eko Istiyanto dan Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Anhar Riza Antariksawan, Wali Kota Tangerang Airin Rachmi Diany, turut hadir dalam konferensi pers ini para eselon Kemenristek/BRIN, BAPETEN, BATAN, dan Pemerintah Kota Tangerang Selatan.

Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik
Kemenristek/BRIN