Siaran Pers Kemenristek/BRIN
Nomor: 30/SP/HM/BKKP/II/2020

Jakarta – Wakil Presiden Republik Indonesia Ma’ruf Amin meminta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memiliki prioritas agenda riset dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Wapres Ma’ruf menyebutkan, BPPT sebagai lembaga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (iptek) harus dapat diandalkan dalam pengkajian dan penerapan iptek yang terkoneksi dengan dunia usaha dan industri guna mendorong munculnya inovasi dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat sehari-hari sehingga dapat memberikan nilai tambah ekonomi di sektor industri, baik produksi jasa maupun informasi.

“BPPT harus memiliki agenda riset dan inovasi yang diprioritaskan. Saat ini perkembangan iptek begitu pesat, inovasi terus bermunculan. Inovasi ini akan menambah nilai tambah suatu produk yang meningkatkan daya saing ekonomi nasional,” terang Wapres Ma’ruf saat membuka Rapat Kerja BPPT Tahun 2020 di Auditorium B.J Habibie Gedung BPPT, Jakarta (24/2).

Wapres Ma’ruf mengungkapkan, Indonesia sebagai negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam (SDA) masih kurang melibatkan industri dan akademisi pada penguasaan iptek dalam berinovasi. Hal ini menyebabkan rendahnya nilai tambah yang dihasilkan dibanding negara-negara maju lainnya, termasuk anggota kawasan ASEAN Lima.

“Untuk membangun inovasi dan daya saing, diperlukan peran dari dunia industri, pemerintah dan akademisi. Saat ini peran dari ketiganya tersebut masih lemah sehingga inovasi dan daya saing Indonesia tertinggal dari negara lain,” jelas Wapres Ma’ruf

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, inovasi dan sumber daya iptek merupakan hal penting dalam pembangunan suatu negara. Hal ini penting karena menjadi tolok ukur dalam Indeks Daya Saing Global atau Global Competitiveness (CGI).

“Saat ini Indonesia mengalami penurunan peringkat dalam CGI, yang disebabkan oleh lemahnya unsur kemampuan inovasi atau innovation capability. Indonesia menempati urutan ke-74 untuk kategori innovation capability, dari 141 negara. Hal ini mengakibatkan turunnya peringkat Indonesia dari peringkat 45 menjadi peringkat 50 dalam CGI, tentu ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama terkait inovasi,” jelas Menristek Bambang

Dalam kesempatan tersebut turut hadir Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Kepala BPPT Hammam Riza beserta tamu undangan lainnya.

Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik
Kemenristek/BRIN