SIARAN PERS
KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI/BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL
Nomor: 130/SP/HM/BKKP/VIII/2020

Bogor – Masih dalam rangka Bulan Kemerdekaan RI ke-75 per 17 Agustus 2020, peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas-25) tgl 10 Agustus 2020; Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro diundang untuk menghadiri upacara puncak HUT Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ke-53 tanggal 25 Agustus 2020.

LIPI yang merupakan satu dari enam Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) dalam kesatuan Kemenristek)/BRIN mempunyai beragam program penelitian dan produk-produk inovasi, yang sinergis dengan Rencana Induk Riset Nasional (RIRN 2017-2045) dan Program Riset Nasional 2020-2024, antara lain mencakup pertanian dan pangan, energi baru dan terbarukan, kesehatan dan obat-obatan, teknik rekayasa (termasuk teknik informasi dan komunikasi), transportasi, teknologi pertahanan, kelautan dan perikanan; serta sosial humaniora, kebudayaan dan pendidikan.

Perayaan HUT ke-53 LIPI ini sangat mempesona, sebab dikala semua lapisan masyarakat seakan berlomba lomba mengikuti kemajuan teknologi Revolusi Industri 4.0, Society 5.0, terkepung oleh Pandemi Covid-19 yang memaksa semua anak bangsa berpacu menghasilkan produk-produk riset dan inovasi dengan teknologi terkini dan mutakhir, LIPI mengajak kita semua menyadari bahwa bangsa Indonesia harus bersyukur karena Indonesia termasuk 17 Negara yang mempunyai kekayaan Mega Biodiversity (keanekaragaman hayati) terbanyak di dunia, dengan memiliki 70% dari total spesies makhluk hidup di dunia (Atlas & Boots, 18 April 2020).

Peringatan HUT LIPI ke-53 dan keberadaan pandemi Covid-19, seakan menjadi titik balik dari semua arogansi yang ada di dunia, mengingatkan kita agar manusia harus selalu berbaik hati kepada “Mother Earth”, ibu bumi dan tanah air Indonesia dimana kita berpijak. Peringatan HUT LIPI ke-53 itu dilakukan secara open air – di alam terbuka di tengah-tengah Kebun Raya Bogor, sebagai “jantung” (simbol) Indonesia yang sangat kaya dengan keanekaragaman hayati (biodiversity). Di atas langit masih ada langit, adalah kiasan yang sering kita dengar, maka sebaiknya manusia menyadari bahwa pandemi Covid-19 ini membuat bangsa Indonesia “harus” lebih mensyukuri bahwa kita tinggal di negara yang sangat kaya dengan sumber daya alam (SDA). Lalu, pergunakan seluruh kemampuan terbaikmu untuk mengelola SDA dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga bangsa Indonesia mampu menghasilkan berbagai Inovasi yang harus berguna untuk masyarakatnya dan dunia.

Dalam pagi yang cerah tersebut, Menristek/Kepala BRIN menyampaikan tiga pesan untuk Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang merayakan ulang tahun ke-53 pada 23 Agustus lalu.

“Khusus pada LIPI, selama lima tahun ke depan periode Kabinet Indonesia Maju. Permintaan dari saya kepada LIPI ada tiga yang paling utama,” tegas Menristek/Kepala BRIN di peringatan Hari Ulang Tahun ke-53 LIPI di Kebun Raya Bogor, Bogor, Jawa Barat pada Selasa (25/8).

1. Pertama, LIPI tetap harus menjaga marwah dari riset dasar

Menurut Menteri Bambang, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta inovasi suatu negara berasal dari eksplorasi dan kemampuan pengembangan riset dasar (basic sciences) yang potensial dilanjutkan ke tahap pengembangan.

Tahap pengembangan, pengkajian dan penerapan dari riset dasar, untuk kemudian menghasilkan inovasi, dapat dilakukan melalui kolaborasi bersama lembaga, instansi, dan perguruan tinggi, industri, baik dari pihak Pemerintah RI, pihak swasta maupun masyarakat Indonesia pada umumnya. Jadi tidak harus LIPI sendiri yang melakukan semua proses tersebut.

Sebagai ekonom, Menristek/KaBRIN mengapresiasi keberhasilan LIPI dalam menghasilkan inovasi akan tetapi beliau mengharapkan produk-produk inovasi LIPI lebih banyak di temukan di toko/market, akan tetapi LIPI tidak harus melakukan hilirisasi dan komersialisasi itu sendiri, melainkan disarankan untuk berkolaborasi dengan mitra potensial lainnya.

2. Pesan kedua, LIPI harus menjaga kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia yang merupakan aset sumber daya alam (SDA) Indonesia, di luar dari aset tambang dan aset pertanian.

Keanekaragaman hayati (biodiversity) perlu diolah secara tepat, dengan tetap memperhatikan pembangunan berkelanjutan. Jika kekayaan alam mineral suatu saat akan habis, sebaliknya keanekaragaman hayati ini bisa dieksplorasi dan ditransformasi dengan optimal, sehingga menjadi kekayaan sesungguhnya yang bernilai komersial.

Sebagai contoh, obat tradisional yang sudah lama digunakan, penggunaan kata “tradisional” mungkin bisa diganti dengan Obat Modern Asli Indonesia (OMAI), sehingga sekelompok masyarakat yang tadinya enggan menggunakan karena adanya kata “tradisional” menjadi berminat.

Menteri Bambang mencontohkan bahwa obat tradisional yang sebenarnya terdiri dari obat herbal (herbal medicine), di beberapa negara di luar negeri, seperti di RRT (Republik Rakyat Tiongkok) justru lebih di gemari di bandingkan dengan obat kimiawi. Oleh sebab itu pemilihan dan penggunaan kata komersial untuk suatu produk inovasi tertentu, perlu di evaluasi kembali.

“Jadikan keanekaragaman hayati Indonesia sebagai kekayaan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat. LIPI mempunyai potensi luar biasa sebagai penjaga keanekaragaman hayati, jadi diyakini bahwa ini bisa menjadi kekuatan kita (bangsa Indonesia),” pesan Menteri Bambang.

3. Pesan ke tiga Menteri Bambang tentang kolaborasi dan konsorsium riset dan inovasi.

Menristek/Kepala BRIN Bambang mengapresiasi LIPI dan lembaga litbangjirap lainnya yang telah berkontribusi bersama sama dalan Tim Konsorsium Riset dan Inovasi percepatan penanggulangan Covid-19 yang dibentuk oleh KemenristekBRIN per awal Maret 2020.

Diharapkan ke depannya kontribusi yang dihasilkan merupakan solusi inovatif yang mampu menjadi subtitusi impor.

“Substitusi impor bukan diartikan dengan mengimpor komponen-komponen material kemudian merakit dan menjualnya di Indonesia, harapannya dari kegiatan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan (litbangjirap) muncul berbagai produk inovasi yang bisa dijadikan solusi untuk menjawab kebutuhan bangsa Indonesia, termasuk untuk penanganan COVID-19 saat ini,” terang Menteri Bambang.

Menristek Bambang juga sangat mengapresiasi produk-produk inovasi LIPI terkait Covid 19, seperti RT Lamp dan Immunomodulator yang sedang dikembangkan LIPI – sebagai salah satu suplemen untuk meningkatkan kekebalan tubuh penderita Covid-19.

Mengakhiri arahannya, Menristek Bambang juga menginginkan produk-produk Inovasi LIPI, seperti teknologi pengolahan limbah, propolis, dan inovasi lainnya untuk dapat diperkenalkan ke beliau dan masyarakat Indonesia, sehingga mitra potensial akan tertarik sehingga dapat berkolaborasi dengan LIPI dalam pelaksanaan proses hilirisasi dan komersialisasi produk inovasi berbasis riset dasar tersebut.

Selain tuan rumah Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko yang menjadi tuan rumah dari Peringatan HUT LIPI ke-53, kegiatan tersebut dihadiri oleh Walikota Bogor, Bima Arya; Kepala BPPT, Hammam Riza; Kepala BATAN, Anhar Riza; Kepala BAPETEN, Jazi Eko Istiyanto, Plt Sesmenristek Mego Pinandito, serta Pejabat Eselon I lainnya di lingkungan Kemenristek/BRIN.

Rangkaian acara HUT 53 LIPI yang dilaksanakan dengan protokol kesehatan, juga diawali dengan kegiatan jalan sehat di area Kebun Raya Bogor.

Selain itu juga dilaksanakan pemberian penghargaan inventor terbaik 2020 kategori Penghasil Royalti Terbesar Periode Tahun 2019, serta penghargaan Satyalancana Wirakarya kepada tujuh peneliti LIPI, dan penghargaan Satyalancana Karyasatya kepada sivitas LIPI.

Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik
Kemenristek/BRIN
dan
Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI