SIARAN PERS
KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI/BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL
Nomor: 145/SP/HM/BKKP/IX/2020

Jakarta – Indonesia adalah negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati tertinggi kedua di dunia, dan bila digabungkan dengan keanekaragaman hayati di laut maka Indonesia menjadi yang pertama. Komitmen dan upaya pengelolaan keanekaragaman hayati Indonesia pun harus terus dikembangkan dan diarahkan untuk pembangunan yang berkelanjutan, sehingga pemanfaatannya dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat.

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro saat hadir sebagai keynote speaker pada International One-Day Webinar on Indonesian Biodiversity “Mainstreaming biodiversity conservation, bioprospection, and bioeconomy for sustainable livelihood”, Rabu (16/09), mengungkapkan bahwa keanekaragaman hayati merupakan bagian yang sangat penting bagi kehidupan manusia.

“Biodiversitas (keanekaragaman hayati) memiliki peranan penting, seperti menyediakan bahan pangan, sebagai sumber energi, sumber air, memberikan lingkungan berkualitas, ketenangan spiritual, sebagai penjaga kelestarian budaya, mental dan kesehatan kita sebagai manusia. Seluruh aspek kehidupan kita sangat dipengaruhi biodiversitas, jadi sangat jelas biodiversitas merupakan aset jangka panjang kita,” ungkap Menristek/Kepala BRIN.

Diperkirakan sekitar 40 juta orang Indonesia yang tinggal di pedesaan bergantung pada keanekaragaman hayati untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Dibutuhkan upaya lebih untuk melakukan konservasi keanekaragaman hayati serta bioprospeksi dan bioekonomi berkelanjutan. Kesadaran publik dan kerjasama dari setiap aspek pemangku kepentingan sangat diperlukan, maka dari itu pengarusutamaan keanekaragaman hayati menjadi penting.

“Pengarusutamaan keanekaragaman hayati merupakan upaya kolektif untuk mengintegrasikan tindakan-tindakan yang berkaitan dengan konservasi dan pemanfaatan keanekaragaman hayati berkelanjutan pada setiap tahapan kebijakan, rencana, program, dan siklus proyek setiap pemangku kepentingan. Jadi jelas harus dimulai saat penyusunan kebijakan sampai nanti eksekusinya,” ujar Menteri Bambang.

Pada kesempatan tersebut Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko mengatakan bahwa dalam jangka panjang, upaya pengarusutamaan keanekaragaman hayati akan membawa perubahan paradigma kolektif pelestarian dan peningkatan status keanekaragaman hayati serta menghasilkan kesejahteraan manusia baik dalam segi ekonomi maupun sosial.

“Pengarusutamaan keanekaragaman hayati sendiri bertujuan memasukkan tindakan terkait konservasi dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan demi masa depan dan pengembangan negara kita Indonesia,” terang Handoko.

Acara ini dihadiri oleh berbagai pembicara dan pembahas yang ahli dalam bidang konservasi, bioprospeksi dan bioekonomi keanekaragaman hayati yang berasal dari LIPI, Bappenas, Universitas Padjajaran, University of California Berkeley (UC Berkeley), University of California Davis (UC Davis), University of Alaska, diaspora dari Oregon State University serta Lancaster University. Turut serta diikuti oleh peserta dari berbagai negara antara lain India, United Kingdom, United State of America, Jepang, Australia, Belanda, Thailand, Jerman, dan Timor Leste.

Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik
Kemenristek/BRIN dan
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)