Siaran Pers Kemenristek/BRIN
Nomor: 44/SP/HM/BKKP/III/2020

Jakarta – Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro menghadiri acara pembahasan peran Rumah Sakit dan Rumah Sakit Gigi dan Mulut Perguruan Tinggi Negeri (RS-RSGM PTN). Menristek/Kepala BRIN mengatakan bahwa kegiatan riset dan inovasi di Indonesia paling banyak terdapat di bidang kesehatan.

“Kita melihat satu aspek penting dari keberadaan rumah sakit yang berada di lingkup Perguruan Tinggi Negeri dan Rumah Sakit Gigi dan Mulut yaitu fakta bahwa yang namanya kegiatan riset dan inovasi terutama risetnya yang paling banyak di Indonesia dari segi bidang itu memang adanya di bidang kesehatan. Artinya, semangat untuk melakukan kegiatan inovasi sudah menemukan tempatnya, yaitu di bidang ilmu kedokteran atau lebih generalnya ilmu kesehatan,” ungkap Menristek/Kepala BRIN.

Menteri Bambang mengatakan bahwa salah satu kesulitan dalam kegiatan riset dan inovasi di bidang kesehatan terutama fitofarmaka adalah uji klinis. Untuk melakukan uji klinis perlu mencari rumah sakit yang mau bekerja sama.

“Salah satu kesulitan dalam riset terkait obat, fitofarmaka terutama dan juga mengenai pengobatan seperti stem cell maupun yang lainnya adalah untuk mendapatkan uji klinisnya, mendapatkan rumah sakit yang mau bekerja sama untuk melakukan uji klinis terhadap obat atau treatment kesehatan tertentu,” ungkap Menteri Bambang.

Rumah sakit pendidikan dibutuhkan dalam mendukung ekosistem riset kedokteran, namun Menristek/Kepala BRIN menginginkan rumah sakit pendidikan ini menambahkan fungsi penelitian dan riset menjadi rumah sakit pendidikan dan penelitian.

“Dalam konteks riset dan teknologi dan untuk mendukung ekosistem riset kedokteran maka kami memutuskan kita butuh rumah sakit pendidikan ini tapi yang saya minta harus ada istilah riset atau penelitiannya, menjadi rumah sakit pendidikan dan riset, atau rumah sakit pendidikan dan penelitian, selain sebagai rumah sakit tempat calon dokter belajar tapi juga menjadi rumah sakit dimana riset di bidang kesehatan termasuk farmasi bisa diselenggarakan,” ungkap Menristek/Kepala BRIN.

Dalam mendukung kemajuan dan kelancaran riset di bidang kesehatan, Menteri Bambang juga mengatakan bahwa Kemenristek/BRIN siap menjadi pembina dan pengayom.

“Kami siap menjadi pembina dan pengayom tadi dengan catatan bahwa Bapak Ibu semua sebagai pengurus rumah sakit siap untuk mendukung kemajuan dan kelancaran riset di bidang kesehatan tadi,” ungkap Menteri Bambang.

Menristek/Kepala BRIN meminta agar mengubah konsep Teaching Hospital (Rumah Sakit Pendidikan) menjadi Teaching and Research Hospital (Rumah Sakit Pendidikan dan Riset).

“Yang saya minta dari Bapak Ibu sekalian marilah convert konsep teaching hospital menjadi teaching and research hospital yang diharapkan bisa menjadi yang terdepan dalam penggunaan obat, alat kesehatan, maupun semua produk kesehatan yang merupakan inovasi Indonesia,” ungkap Bambang Brodjonegoro.

Kegiatan yang dilaksanakan di Ruang Speed, Gedung B.J. Habibie ini turut dihadiri oleh Plt. Staf Ahli Menteri Bidang Infrastruktur, Ali Ghufron Mukti; Ketua Asosiasi Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri, Nasrodin; para rektor PTN; para dekan dari Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi dan Mulut PTN; serta para direktur dari seluruh Rumah Sakit dan Rumah Sakit Gigi dan Mulut Perguruan Tinggi Negeri.


Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik Kemenristek/BRIN