SIARAN PERS
Nomor: 70/SP/HM/BKKP/VI/2020

Jakarta – Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro menyampaikan bahwa inovasi merupakan keyword dalam pembangunan ekonomi di masa depan. Perubahan pola pikir dibutuhkan untuk dapat merubah paradigma dari ekonomi berbasis industrialisasi menjadi ekonomi berbasis inovasi.

“Kalau kita membaca economic development di masa depan, mau tidak mau inovasi menjadi kata kunci. Sejarah menunjukkan bahwa negara-negara yang berhasil membawa ekonominya dari tadinya yang berpendapatan rendah naik ke menengah, kemudian yang paling sulit adalah dari menengah ke atas adalah inovasi. Dari sisi ekonomi, industrialisasi saja tidak cukup maka perubahan paradigma perlu dilakukan dari ekonomi berbasis industrialisasi menjadi ekonomi berbasis inovasi,” ungkap Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro saat memberikan materi pada Webinar dengan topik Ekonomi Berbasis Inovasi Teknologi pada Sabtu (13/6) pagi.

Menteri Bambang menjelaskan bagaimana perlunya perubahan mindset atau pola pikir dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0 saat ini, yaitu perubahan dari mindset konvensional yang berkarakterisrik ekslusif per sektor, bertahan pada status quo, tidak mengapresiasi perubahan menjadi mindset startup yang berkarakter, kolaborasi, inovasi, dan tanggap pada perubahan (agile).

“Kurikulum kita sekarang yang dibangun dari masa lalu masih berkonsep konvensional. Tapi saya yakin itu mindset lama, dan bayangan saya nanti ketika Bapak/Ibu di depan kelas, itu seperti mengajar calon startup, karena fakultas teknik itu adalah yang paling siap untuk menjadi entrepreneur. Jadi startup itu adalah perusahaan pemula yang berbasis teknologi, dimana artinya yang Bapak/Ibu didik saat ini adalah calon dari startup dan entrepreneur Indonesia masa depan. Mindset startup ini menekankan pada kolaborasi, selalu berinovasi karena merupakan rule of the game untuk tanggap akan perubahan,” jelas Menristek/Kepala BRIN.

Menurut Menteri Bambang dalam dunia pendidikan, terutama pendidikan tinggi maka kolaborasi tidak cukup dilakukan antar fakultas di dalamnya, namun juga dibutuhkan sistem kolaborasi yang mendukung agar inovasi di dunia pendidikan dapat menembus dunia industri dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Melalui Sinergi Triple Helix, diharapkan mampu menjadi jawaban atas tantangan adanya Revolusi Industri 4.0 dan dalam penerapan ekonomi yang berbasis inovasi.

“Ketika produk yang dihasilkan tidak diminati atau dibutuhkan industri maka hanya akan menjadi hasil penelitian yang tidak dapat dinikmati masyarakat. Bisa juga mampu menghasilkan produk tapi tidak punya ijin untuk dipasarkan. Sebab itu Triple Helix dimana di dalamnya ada perguruan tinggi, industri sebagai produksi dan pemerintah sebagai fasilitator menjadi sangat penting untuk kita dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0 dan menerapkan ekonomi yang berbasis inovasi. Dimana hal ini sejalan dengan visi rencana induk nasional riset kami sampai 2024 yaitu Indonesia berdaya saing dan berdaulat berbasis Iptek,” ungkap Menteri Bambang.

Lebih lanjut, pemerintah dalam hal ini Kemenristek/BRIN mempunyai strategi dalam penguatan inovasi di Indonesia. Melalui strategi penguatan inovasi berbasis klasterisasi, Menteri Bambang menjelaskan klasterisasi dilihat dari factor (input) conditions, related and supporting industries, context for firm strategy and rivalry, dan demand conditions. Kemudian yang dilakukan adalah dengan klasterisasi meningkatkan produktivitas dan efisiensi, klasterisasi menstimulasi membuka peluang inovasi, klasterisasi memfasilitasi komersialisasi.

Dalam paparan penutupnya Menteri Bambang sekali lagi menekankan pentingnya kolaborasi dalam menciptakan inovasi. Menteri Bambang juga menyampaikan bagaimana peran penting Pendidikan Tinggi khususnya di bidang teknik dalam hal Inovasi yang diharapkan mampu memberi nilai tambah (high added value) dari produk yang dihasilkan.

“Tidak ada namanya ego sektoral, apalagi ego individual yang ada hanyalah kolaborasi. Kita contohkan Bill Gates, Steve Jobs pun kolaborasi jadi tidak ada yang bisa berhasil karena sendiri. Terakhir yang dibutuhkan dalam inovasi utamanya melalui pendidikan tinggi adalah diharapkan adanya nilai tambah setinggi mungkin, melalui kreativitas berdasar critical thinking dengan logika sains, adanya pengetahuan baru, sehingga mahasiswa dapat menjadi agen perubahan, agen inovasi, agen sosial yang berjiwa entrepreneurship,” terang Bambang Brodjonegoro.

Webinar ini diikuti oleh kurang lebih 500 peserta yang terdiri dari pimpinan, dosen dan mahasiswa jurusan teknik. Turut berpartisipasi dalam Webinar Engineering in Action ini Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Nizam; Dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia dan Ketua Wilayah Tengah Forum Dekan Teknik Indonesia (FDTI), Hendri D.S. Budiono; dan Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Inspeksi Teknik Indonesia (APITINDO dan Direktur Utama PT Biro Klasifikasi Indonesia, Rudiyanto. Adapun Webinar tersebut dapat disaksikan kembali pada tautan berikut: https://bit.ly/InovasiAtasiCOVID19_16.

Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik Kemenristek/BRIN