SIARAN PERS
KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI/BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL
Nomor: 116/SP/HM/BKKP/VIII/2020

Jakarta – Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bambang PS Brodjonegoro menjadi pembicara dalam acara webinar yang diadakan oleh Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia (HIMNI) dengan tema Posisi Nuklir di dalam BRIN, Kamis (13/08).

Menristek/Kepala BRIN dalam sambutannya mengatakan bahwa akan berusaha mengawal sebaik mungkin hilirisasi hasil riset dalam bidang nuklir. Diharapkan nantinya nuklir tidak hanya identik dengan listrik (power plant) namun juga elemen yang dapat mensejahterakan masyarakat.

“Kami di Kemenristek/BRIN akan berusaha mengawal sebaik mungkin agar hilirisasi hasil riset termasuk riset dalam bidang nuklir ini bisa terjadi dengan baik dan bisa masuk kepada mainstream dalam berbagai sektor sehingga nuklir nantinya tidak hanya identik dengan listrik atau power plant tapi nuklir adalah bagian dari elemen yang bisa dipakai untuk mensejahterakan masyarakat,” ujar Menristek/Kepala BRIN.

Bambang PS Brodjonegoro berharap ekonomi Indonesia dapat berubah menjadi ekonomi berbasis inovasi yang tentunya harus didorong oleh Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Ke depannya pertumbuhan ekonomi diharapkan tidak hanya berdasarkan kekayaan alam saja.

“Kita ingin ekonomi kita benar-benar berubah menjadi ekonomi berbasis inovasi, tentunya harus didorong oleh IPTEK dan itulah yang kita harapkan ke depan agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya berdasarkan kepada kekayaan alam (sumber daya alam) yang kita miliki, berarti peningkatan kapabilitas adopsi teknologi dan inovasi menjadi sangat penting,” ungkap Menteri Bambang.

Saat ini yang menjadi kebutuhan utama dari pemanfaatan teknologi nuklir salah satunya adalah Iradiator Gamma. Pemanfaatan Iradiator Gamma ini dirasa sangat penting bagi daerah yang penghasilan ekonominya bergantung pada pertanian. Iradiasi di bidang pangan juga merupakan pemanfaatan teknologi nuklir yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Kalau saya boleh memberi saran, yang sekarang menjadi kebutuhan utama di sektor pertanian atau daerah-daerah yang penghasilan ekonominya bergantung pada pertanian adalah iradiasi di bidang pangan dengan Iradiator Gamma. Inilah salah satu peluang menurut saya pemanfaatan teknologi nuklir yang langsung dirasakan oleh masyarakat,” ujar Menristek/Kepala BRIN.

Keberadaan Iradiator Gamma dinilai perlu ditingkatkan jumlahnya agar pemanfaatan teknologi nuklir dapat lebih dirasakan oleh masyarakat. Iradiator Gamma merupakan jasa yang dapat diberikan kepada pemilik komoditas agar produk yang dihasilkan tidak cepat rusak.

“Karena (Iradiator Gamma) ini merupakan jasa yang bisa diberikan kepada pemilik produk, pemilik komoditas, atau Pemda yang ingin membantu petani nya agar produknya tidak cepat rusak. Karena itu kita mendorong supaya iradiator gamma lebih banyak dan otomatis nuklir bisa lebih dirasakan oleh masyarakat,” ungkap Menteri Bambang.

Di akhir paparannya, Menristek/Kepala BRIN menyampaikan bahwa yang terpenting dari permasalahan pangan ini bukan hanya untuk keperluan makan sehari-hari melainkan juga untuk meningkatkan ekonomi para petani di Indonesia.

“Yang paling penting masalah pangan ini bukan hanya untuk keperluan makanan kita saja tetapi juga untuk meningkatkan ekonomi petani, kalau produktivitas meningkat (untuk tanaman apapun) maka petanilah yang akan menikmati manfaat karena berarti margin yang dia terima atau profit yang diterima akan menjadi lebih besar,” tutup Bambang PS Brodjonegoro.

Fajar R Dewantara, M Rif’an Jauhari, Masluhin Hajaz
Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik
Kemenristek/BRIN