SIARAN PERS
KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI/BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL
Nomor: 146/SP/HM/BKKP/IX/2020

Jakarta – Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional menjadi narasumber dalam webinar yang diadakan oleh Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia dengan tema ‘Inovasi Hijau di Era Adaptasi Baru Menuju Pembangunan Berkelanjutan’ pada Rabu (16/09).

Menristek/Kepala BRIN di awal paparannya mengungkapkan bahwa meskipun dunia saat ini sedang mengalami pandemi Covid-19 namun ada salah satu tujuan global sebenarnya tidak boleh diinterupsi oleh apapun yang terjadi. Tujuan itu adalah Sustainable Development Goals (SDGs) yang merupakan upaya untuk membangun suatu masyarakat dengan mengintegrasikan ekonomi, sosial, dan lingkungan.

“Kalau kita baca SDGs ini secara sederhana, pembangunan ekonomi tidak akan berkelanjutan jika tidak didukung dengan level yang sama di pembangunan sosial dan pembangunan lingkungan, demikian juga pembangunan lingkungan tidak akan berkelanjutan jika tidak didukung pembangunan di sisi ekonomi dan sosialnya dan hal yang sama juga berlaku di pembangunan sosial,” ungkap Menristek/Kepala BRIN.

Bambang PS Brodjonegoro melanjutkan, penerapan inovasi yang tidak terpisahkan dari SDGs adalah penerapan ekonomi hijau yang inklusif. Ekonomi hijau yang inklusif harus menjadi acuan kedepannya dalam upaya riset dan inovasi dibidang lingkungan. Untuk menunjang itu semua maka diperlukan semangat green innovation.

“Berbicara inovasi dan untuk menunjang ekonomi hijau yang inklusif tersebut maka inovasi yang kita dorong tentunya harus punya semangat green innovation yaitu menstimulasi inovasi penciptaan industri baru dan yang paling penting tetap mempunyai dampak pada daya saing ekonomi,” ujar Menteri Bambang.

Green innovation merupakan semua bentuk inovasi dalam bentuk produk, layanan, proses produksi, maupun metode bisnis yang dapat berkontribusi terhadap ekonomi sekaligus berkontribusi bagi lingkungan. Semangat green innovation dalam menunjang ekonomi hijau yang inklusif memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk dapat menikmati inovasi tersebut.

“Green innovation yang ditambah dengan sifat inklusif tadi memungkinkan semua lapisan masyarakat atau sebanyak mungkin lapisan masyarakat bisa menikmati dampak dari inovasi tersebut,” jelas Menteri Bambang.

Di akhir paparannya Menristek/Kepala BRIN berpesan agar inovasi hijau memiliki dampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, peningkatan ekspor, dan juga penguatan sumber daya manusia.

“Inovasi itu harus bisa menciptakan sesuatu yang berotasi pada ekonomi hijau yang inklusif dan kemudian berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat peningkatan kegiatan ekonomi melalui ekspor maupun penguatan dari sumber daya manusianya sendiri di samping tetap kita bisa menjaga kelestarian atau kualitas dari lingkungan hidup kita sendiri,” tutup Menteri Bambang.

Fajar R Dewantara, Moh. Rif’an Jauhari, Masluhin Hajaz
Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik
Kemenristek/BRIN