SIARAN PERS
KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI/BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL
Nomor: 148/SP/HM/BKKP/IX/2020

Salah satu produk Prioritas Riset Nasional (PRN) yang menjadi fokus saat ini adalah baterai untuk kendaraan bermotor listrik. Presiden Joko Widodo telah mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 55/2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai yang akan menjadi dasar untuk riset dan pengembangan serta inovasi yang berhubungan baterai listrik domestik, mulai dari penggunaan, penyediaan sarana pengisian, pengaturan tarif, serta ketentuan teknis kendaraannya. Tujuan Keppres ini agar Indonesia mempunyai hasil yang signifikan dalam produksi kendaraan listrik berbasis baterai secara global serta ingin mempunyai kemampuan dalam merancang dan mengembangkan sendiri kendaraan tersebut.

Hal ini dikemukakan oleh Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional sebagai keynote speaker dalam Video Conference UK-Indonesia Focus Group Discussion towards National Battery Institute Research pada Rabu (16/9).

Menurut Menteri Bambang pertumbuhan penggunaan baterai lithium di dunia telah tumbuh pesat dan penggunaanya meningkat setiap tahun dan kualitasnya semakin baik. Tiongkok menjadi negara penghasil baterai lithium di Asia terbesar dibanding negara Jepang dan Korea Selatan serta menjadi negara penghasil kendaraan bermotor listrik terbanyak dibanding negara-negara di Amerika dan Eropa. Indonesia yang menjadi negara nomor empat populasi dunia perlu belajar banyak tentang kendaraan bermotor listrik karena suatu saat nanti perlu mengganti kendaraan biasa menjadi kendaraan bermotor listrik.

Pertumbuhan pasar global baterai lithium tumbuh pesat pada segmen kendaraan green energy dalam bentuk kendaraan listrik berbasis baterai secara global. Lebih dari 95 persen kendaraan listrik hybrid menggunakan baterai lithium pada tahun 2015. Kendaraan bermotor hybrid di Indonesia bukan merupakan pilihan dalam fokus kendaraan bermotor listrik. Beberapa negara besar sudah menginvestasikan baterai lithium di Indonesia karena Indonesia merupakan pasar terbesar masa depan dan mempunyai sumber daya alam berupa nikel sebagai bahan baku baterai.

Persentasi pemurnian bahan tambang untuk baterai di dunia didominasi oleh lithium, tembaga, cobalt, dan nikel. Australia menjadi penghasil lithium terbesar di dunia. Menteri Bambang mengatakan bahwa Indonesia juga mempunyai sedikit sumber daya mineral tembaga yang ada di Papua tetapi bukan penghasil terbesar di dunia. Untuk nikel, Indonesia bersama Filipina, Rusia, Kanada, dan Australia merupakan negara penghasil nikel terbesar di dunia. Indonesia perlu mengembangkan proses nikel menjadi ferro nikel, pig iron nikel, dan juga stainless steel sebagai turunannya. Ada kemajuan dalam pembangunan fasilitas peleburan tambang di Indonesia karena adanya pertumbuhan tawaran nikel untuk investasi baterai meningkat setiap tahun. Indonesia belum mempunyai fasilitas untuk tersebut untuk tembaga, lithium dan cobalt.

“Yang menjadi masalah dalam pengembangan kendaraan bermotor listrik adalah pengisian daya yang tidak hanya dalam hal ketersediaan stasiun pengisiannya serta harga listrik karena hal ini belum terlalu populer di Indonesia. Ada konsorsium yang terdiri dari lima univesitas yang didukung oleh LIPI dan BPPT dalam pengembangan kendaraan bermotor listrik yaitu UI, ITB, ITS, UNS, serta UGM. Dan UNS menjadi pemimpin dalam konsorsium pengembangan baterai untuk kendaraan tersebut. Yang menjadi fokus dalam kendaraan bermotor listrik di Indonesia adalah pertama stasiun pengisian daya cepat dan kedua tipe kendaraan terutama untuk bis berukuran besar serta sedang dan sepeda motor. Pada tahun 2021 Indonesia akan mulai memroduksinya untuk skala besar. Kemristek/BRIN akan bekerja sama dengan kementerian lain untuk mengimplemetasikan hal ini terutama untuk pengisian daya listrik cepat,” jelas Menteri Bambang.

Sebagai penutup, Menteri Bambang menjelaskan dalam jangka waktu lima tahun (2014-2019), telah ada 22 kompetisi dana penelitian terutama Newton Fund, 15 program inovasi dan penelitian, dan 2205 kerja sama publikasi. Indonesia telah mempunyai nota kesepahaman dengan Inggris pada tahun 2020 yang berisi kolaborasi area potensial yang ditandatangani secara virtual dan upacara penghargaan Newton Prize 2020 di Jakarta dan London. Kerja sama ini membuka kemungkinan untuk kekayaan keanekaragaman dan dasar hak kekayaan intelektual. Dasar kerja sama tersebut adalah program riset dan inovasi dalam agenda pembangunan nasional yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia di dunia. Dalam hal ini kendaraan bermotor listrik yang akan mengurangi emisi, mengurangi bahan bakar fosil, dan mempunyai inovasi dalam menciptakan lingkungan yang bersih. Dengan dukungan pemerintah serta riset dan inovasi yang berasal dari NBRI (National Battery Research Institute) dan peneliti lain Indonesia berharap dapat membangun ambisi dalam pembuatan kendaraan bermotor listrik.

Turut hadir dalam focus group discussion tersebut Prof. Evvy Kartini (Pendiri NBRI), Prof. Alan J Drew (Co-founder NBRI), Prof. Collin Grant (Queens Marry University of London), dan Sian Zarkov (United Kingdom Research and Innovation).

Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik
Kementerian Riset dan Teknologi / Badan Riset dan Inovasi Nasional