Siaran Pers Kemenristek/BRIN
Nomor: 14/SP/HM/BKKP/I/2020

Kabupaten Bogor – Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN), Bambang P.S. Brodjonegoro menyampaikan terdapat peluang kerja sama antara universitas dan lembaga penetian, pengembangan, pengkajian dan penerapan (litbangjirap) Australia untuk melakukan kolaborasi bersama dengan perguruan tinggi dan lembaga litbangjirap di Indonesia.

Menristek/KaBRIN Bambang mengungkapkan kolaborasi antara Indonesia dan Australia selama ini pada umumnya berjalan baik dan dapat ditingkatkan. Bentuk kolaborasi selain pada tema-tema kerjasama, antara lain dalam bidang pertanian dan kehutanan, alternatif energi dan energi terbaharukan (renewable energy), kesehatan, perikanan dan kelautan, juga kolaborasi untuk peningkatan kapasitas (capacity building program) dalam bentuk pemberian beasiswa degree maupun non-degree (training, workshop, seminar, dan sebagainya).

“Saya sangat mengapresiasi program-program kolaborasi yang sudah dilakukan Indonesia bersama Australia, karena pada dasarnya Australia adalah partner kolaborasi riset dan inovasi yang sangat potensial, tidak hanya karena banyak Professor Indonesia lulus dari Australia, terutama untuk program magister dan doktoral, tapi lebih penting lagi karena lokasi strategis dari kedua Negara ini. Indonesia dan Australia secara geografis, sangat dekat satu sama lain. Sehingga perlu diidentifikasi lebih banyak lagi untuk area-area kerjasama bilateral,” ungkap Menristek/Kepala BRIN saat memberi sambutan pada Workshop Australian National University Indonesia Project di Hotel Pullman Ciawi Vimala Hills Resort, Kabupaten Bogor pada Kamis (23/1).

Menteri Bambang melihat Australia saat ini bisa melakukan lebih banyak kerja sama riset dan inovasi dengan Indonesia. Saat ini Australia menjadi negara dengan urutan nomor enam yang paling banyak melakukan kolaborasi penelitian dengan perguruan tinggi dan lembaga penelitian di Indonesia (berdasarkan data Foreign Research Permit – FRP), namun itikad Pemerintah Australia bersama universitas dan lembaga penelitiannya dalam penyediaan dan/atau kontribusi pendanaan riset dan inovasi, termasuk yang tertinggi di Indonesia.

“Australia bisa saja nomor enam dalam jumlah penelitian (bersama Indonesia), tapi dapat disyukuri Australia masuk peringkat tiga tertinggi dalam urutan Negara donor yang memberikan dukungan pendanaan untuk kolaborasi riset,” ungkap Bambang. 

Kemenristek/BRIN saat ini juga sudah melahirkan kerja sama penelitian antara sebelas perguruan tinggi Indonesia dengan Massachusetts Institute of Technology (MIT) – Amerika Serikat (AS), yang disebut sebagai MIT – Indonesia Research Alliance (MIRA). Mekanisme seperti ini tentu saja bisa dimultiplikasi, sehingga Universitas terbaik asal Australia juga dapat melakukan kolaborasi riset dengan banyak universitas maupun lembaga litbangjirap asal Indonesia.

“Kami memberi perlakuan sama kepada setiap universitas/institusi litbangjirap terbaik dari seluruh dunia, selama mereka adakan partner di Indonesia. Contohnya dalam kerjasama perguruan tinggi (PT) di Indonesia dengan MIT – AS, banyak bidang-bidang penelitian yang sudah disetujui oleh profesor dari MIT – AS dan Profesor dari PT di Indonesia. ITB tidak hanya satu-satunya PT yang terlibat dalam konsorsium MIRA tersebut, karena ini konsorsium dari sebelas universitas. ITB memimpin cluster riset dan inovasi tersebut, sebagai Sekretariat Nasional untuk kolaborasi MIRA ini,” ungkap Bambang.

Kunjungan ke Agribusiness and Technology Park (ATP) IPB
Setelah memberi arahan pada  Workshop Australian National University Indonesia Project, Menristek/KaBRIN kemudian mengunjungi Agribusiness and Technology Park Institut Pertanian Bogor (ATP IPB). Dalam Science and Techno Park (STP) yang lokasinya dekat dengan IPB ini, Menteri Bambang melihat langsung green house atau rumah kaca dan kolam yang dikembangkan IPB mampu dikontrol melalui jarak jauh dengan gawai. Selain itu, Menteri Bambang juga melihat langsung proses pengemasan tanaman organik yang ditanam oleh para petani yang dibina oleh IPB.

“Saya paling tidak dari pemerintah sangat berharap fasilitas seperti ini bisa membantu bapak ibu sekalian, apalagi dalam proses bercocok tanamnya sendiri dari benihnya sampai panen ada pendampingan dari ATP IPB,” papar Menristek/Kepala BRIN kepada para petani sebelum memulai audiensi dengan mereka.

Dalam pertemuan dengan para petani, mereka menyampaikan modal untuk bertani diperlukan oleh para petani untuk menambah jumlah produksi tanaman organik yang sudah diserap di berbagai restoran dan supermarket di sekitar Jakarta. Menteri Bambang mendorong ATP IPB untuk mencari mitra yang mampu memberikan pinjaman kepada para petani melalui ATP IPB.

“Di sini yang perlu diperkuat adalah peran ATP IPB sebagai intinya karena kalau kita mengibaratkan ini inti plasma, para petani adalah plasmanya, ATP IPB ini intinya. Kalau hubungan inti – plasma ini semakin diperbaiki, termasuk kemungkinan plasmanya mendapatkan pembiayaan atau kredit yang didukung oleh intinya, saya yakin model ini tidak hanya akan meningkatkan kualitas produk tanamannya atau sayuran, dan buah-buahannya, tapi juga yang paling penting menyejahterakan para mitranya, yaitu para petani,” ungkap Menteri Bambang.

Kunjungan ke Kantor Pusat Center for International Forestry Research (CIFOR)
Setelah mengunjungi ATP IPB, Bambang Brodjonegoro dan rombongan berkunjung ke Kantor Pusat Center for International Forestry Research (CIFOR) yang terletak di tengah salah satu hutan di Kabupaten Bogor. Dalam kunjungan ini Direktur Jenderal CIFOR Robert Nasi beserta para pimpinan CIFOR mendampingi Menristek/KaBRIN mengunjungi komplek Kantor Pusat CIFOR.

Menteri Bambang dalam arahannya mengapresiasi CIFOR yang sudah sejak 1993 memberikan saran terhadap kebijakan Pemerintah Indonesia dalam mengatur dan melindungi hutan. Dalam kesempatan ini, Bambang Brodjonegoro meminta CIFOR untuk terus aktif memberikan saran kepada Pemerintah dalam memastikan ibukota negara (IKN) baru di Kalimantan akan berkonsep kota hutan atau forest city.

“CIFOR sudah memberi banyak masukan, rekomendasi, dan kontribusi kepada manajemen hutan kita sejak lama, saya kira akan baik apabila CIFOR atau ICRAF memberi juga rekomendasi bagaimana kita bisa menerapkan konsep kota hutan (forest city) dan memastikan ibukota baru tidak akan menimbulkan kerusakan pada kondisi lingkungan di sekitarnya. Ini akan jadi salah satu kontribusi dan harap berikan rekomendasi yang tegas, jujur, atau objektif terkait pengembangan dari forest city di ibukota baru ini,” ungkap Menristek/Kepala BRIN.

Kunjungan rombongan Kemenristek/BRIN di CIFOR diakhiri dengan penanaman pohon oleh Menteri Bambang di halaman belakang Kantor Pusat CIFOR.

Turut hadir mengikuti rangkaian pertemuan dan kunjungan hari ini Plt. Deputi Bidang Penguatan Riset dan Pengembangan Muhammad Dimyati serta para eselon dan pegawai Kemenristek/BRIN.


Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik
Kemenristek/BRIN