SIARAN PERS
KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI/BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL
Nomor: 101/SP/HM/BKKP/VIII/2020

Jakarta – Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang PS Brodjonegoro mengatakan bahwa sebanyak 72% industri farmasi di Indonesia dikuasai perusahaan lokal. Akan tetapi, 95% bahan dasarnya berasal dari impor. Hal itu terjadi pula dalam industri alat kesehatan yang tumbuh sebanyak 12% setiap tahun tetapi 90% alat tersebut masih impor. Menteri Bambang memberikan presentasi singkat dalam webinar dan diskusi Panel 100 tahun Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang bertema “Memanfaatkan Teknologi Digital dan Big Data dalam Penelitian dan Pengembangan Kesehatan” pada Kamis, 30 Juli 2020.

Menteri Bambang menekankan pentingnya kerjasama triple helix (akademisi/peneliti, pemerintah, dan dunia usaha) untuk membangun ekosistem di bidang farmasi dan alat kesehatan. Di sisi akademisi, diharapkan ada kegiatan penelitian dan pengembangan yang signifikan yang berujung pada prototype, hak paten, izin edar, kemudian menjadi produk inovasi. BUMN dan pihak swasta dapat memberikan perhatian prioritas pada investasi di bidang alat kesehatan dan industri farmasi sehingga kedepan mampu membuat riset seperti perusahaan farmasi besar di luar negeri.

Peran pemerintah di beberapa kementerian adalah mendorong kegiatan riset untuk memudahkan percepatan perizinan. “Selama ini perizinan untuk produk inovasi dalam negeri masih kurang mendukung. Proses perizinan sekarang menjadi cepat karena ada pandemik Covid 19 jadi kebanyakan menggunakan emergency use authorization. Kalau mengikuti pola biasa proses perizinan menjadi panjang dan membutuhkan biaya yang mahal”, tambah Menteri Bambang.

Menteri Bambang berharap perguruan tinggi dalam konteks menciptakan ekosistem alat kesehatan dan farmasi fokus pada pengembangan iptek yang langsung berkontribusi pada pembangunan nasional khususnya di bidang kesehatan. Untuk keberlanjutan inovasi dan produksinya, dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas serta peran perguruan tinggi dalam mendesain dan mengembangkan alat kesehatan. Proses riset dan inovasi di perguruan tinggi dimulai dari TRL ( Technology Readiness Level) 1 sampai 9 harus dilewati karena tidak bisa dilakukan sendiri meskipun universitas bisa mendorong upaya untuk mendapatkan invensi dan inovasi tetapi perlu angel investor untuk memulai upaya melakukan penelitian tersebut. Menteri Bambang menginginkan penelitian di masa depan adalah penelitian di bidang kesehatan yang langsung menyasar kepada tujuan utama. Kemudian angel investor dapat masuk menjadi startup atau perusahaan berskala besar yang bisa menjual lisensi dan mahasiswa fakultas kedokteran punya semangat untuk menjadi pelaku startup di bidang alat kesehatan. Diharapkan startup tersebut dapat mempercepat upaya ekosistem yang lebih kuat.

Sebagai penutup, Menteri Bambang mendorong para dokter di Indonesia untuk menggunakan produk inovasi alat kesehatan dan obat modern asli Indonesia sehingga mempunyai kemandirian di bidang kesehatan nasional.

Riska Cobaningrum, M Rif’an Jauhari, Masluhin Hajaz
Biro Kerja Sama Komunikasi Publik
Kemenristek/BRIN