Siaran Pers Kemenristek/BRIN

Nomor: 16/SP/HM/BKKP/I/2020

Sumedang – Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro menyampaikan strategi hilirisasi riset perguruan tinggi dihadapan para dosen peneliti di Aula Bale Sawala Unpad Jatinangor, Jumat (24/01). Menteri Bambang mengatakan Universitas Padjadjaran (UNPAD) merupakan bagian dari 11 Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN BH) yang ada di Indonesia. Maka dalam konteks Tri Dharma Perguruan Tinggi, Unpad akan sangat ditunggu kiprahnya, khususnya dalam hal penelitian.

Dari data statistik, lanjut Menteri Bambang, jumlah peneliti di Indonesia akan sangat bergantung dari kiprah perguruan tinggi. Hal ini karena jumlah peneliti tadi paling banyak berasal dari PTN BH, kedua PTN Badan Layanan Umum (PTN BLU), dan Litbang Pemerintah baik yang berstatus sebagai Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) atau Lembaga Litbang di Kementerian/Lembaga.

“Kemenristek/BRIN sangat berkepentingan dengan lembaga penelitian terutama di PTN BH, itulah kenapa Unpad sangat strategis,” ucapnya.

Maka dari itu, Menteri Bambang mendorong agar Unpad bisa menjadi research university. Dengan demikian Unpad harus memiliki unggulan dengan prioritas bidang tertentu. “Saya tahu Unpad punya banyak fakultas, maka yang terpenting adalah bagaimana memadukan antara bidang disiplin ilmu. Karena kalau kita bicara konteks penelitian yang berujung pada inovasi, mau tidak mau kita tidak bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan kerjasama dan sinergi antar bidang disiplin ilmu,” jelasnya.

Menteri Bambang berpesan agar Unpad bisa membangun sinergi dan harmoni antar fakultas, antar jurusan, keahlian dan bidang disiplin ilmu. Sehingga isu yang menjadi prioritas bisa dijawab secara komprehensif.

“Sebagai contoh untuk satu komoditi tertentu saja, misalnya cabe. Bagaimana menjadi komoditas unggul. Perlu tahapan panjang dan membutuhkan perhatian dari banyak bidang. Mulai dari riset mengenai bagaimana cara untuk meningkatkan produktivitasnya, kualitasnya, tingkat kepedasannya, hingga tata niaganya,” bebernya.

Menteri Bambang berpesan agar Unpad memiliki spesifikasi dan prioritas unggulan dalam bidang riset. Terkait dengan hal ini, Menteri Bambang menyarankan Unpad bisa fokus dalam dua alternatif bidang riset yakni Pertanian dan Kesehatan. Khususnya yang memiliki manfaat untuk wilayah di sekitar Jawa Barat. Kabupaten dan daerah sekitar Unpad itu, bisa menjadi laboratorium penelitian bagi para dosen dan mahasiswa Unpad. “Karena itu adalah isu real yang harus kita jawab,” ujar Menteri Bambang.

Selanjutnya Menteri Bambang berpesan kepada dosen peneliti agar melakukan penelitian untuk satu tujuan yaitu mengurangi impor. Sehingga dapat mengurangi biaya produksi, dengan demikian bisa membuat daya beli masyarakat tumbuh. “Dengan penelitian, sebetulnya dapat secara tidak langsung ikut mensejahterakan masyarakat. Jadi tidak perlu mengadakan baksos di suatu daerah. Tapi bisa dengan penelitian yang bermanfaat langsung pada kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Di lain sisi, terkait dengan bidang kesehatan, Indonesia sebetulnya memiliki potensi biodiversiti baik di laut maupun darat yang dapat dimanfaatkan untuk riset di bidang farmasi dan kesehatan. Akan tetapi untuk produksi obat kimia ternyata mayoritas bahan-bahannya masih import. Padahal Indonesia memiliki kekayaan biodiversiti. “Biodiversiti di laut dan darat ini, bisa menjadi sumber obat masa depan,” kata Menteri Bambang.

Sementara itu Rektor Unpad, Rina Indiastuti mengatakan perlu adanya apresiasi kepada para dosen peneliti yang berprestasi. Oleh karenanya, dalam kesempatan yang sama, Unpad memberikan apresiasi kepada Dosen Peneliti dan Departemen di setiap Fakultas yang memiliki produktivitas riset terbanyak dalam tiga tahun terakhir.

“Apresiasi ini semata untuk menghidupkan budaya riset. Dan kita meminta arahan dari Pak Menteri untuk mempercepat dalam hilirisasi riset dan inovasi. Apalagi kami sudah punya Science Techno Park,” ucap Rina.

Menteri Bambang juga meninjau fasilitas riset stem cell yang dikembangkan hasil kerja sama antara Unpad, Biofarma dan Rumah Sakit Hasan Sadikin. Selain itu juga, Menteri Bambang meninjau Laboratorium Bio Safety Level-3 (BSL-3), yang merupakan fasilitas laboratorium khusus untuk menguji penyakit menular yang menyebabkan kematian.

“Saat ini Lab tersebut dalam proses sertifikasi, fasilitas lab ini diperoleh dari proyek peningkatan riset dari Islamic Development Bank (IDB), kemudian dieksekusi oleh Dirjen Belmawa Kemenristekdikti,” bebernya.

Turut hadir dalam kesempatan ini para Wakil Rektor, Dekan, Guru Besar, dan Dosen Peneliti di lingkungan Universitas Padjadjaran.

Pada hari yang sama, Menteri Bambang juga melakukan kunjungan kerja ke Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT) dengan melihat langsung Ruang Pameran, Klinik Nuklir, Reaktor, Laboratorium Radioisotop dan Senyawa Bertanda.

Kunjungan itu disambut oleh Kepala Batan, Anhar Riza Antariksawan dan Kepala PSTNT, Jupiter Sitorus Pane.

Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik Kemenristek/BRIN