SIARAN PERS
KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI/BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL
Nomor: 128/SP/HM/BKKP/VIII/2020

Sudah enam bulan sejak Pemerintah RI mengumumkan Covid-19 merupakan pandemik di Indonesia, sejak itu banyak orang menjadi saksi hidup di Indonesia, yang bersyukur kepada Allah SWT bahwa Kementerian Ristek/Badan Riset Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) dan seluruh stakeholders-nya termasuk BPPT, terus berinovasi untuk bela negara, bela bangsa, berusaha setiap hari tanpa kenal lelah, guna menemukan inovasi-inovasi baru, yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat Indonesia dan dunia.

Hari ini, 24 Agustus 2020, adalah hari Puncak dari Ulang Tahun BPPT yang ke-42 tahun. Tidak muda, tetapi belum tua memang, karena tahun 2020, kita baru saja merayakan Kemerdekaan RI yang ke-75 pada 17 Agustus 2020, memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional yang ke-25, 10 Agustus 2020. Jadi sebagai satu dari sekian Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK), sepatutnya Bangsa Indonesia bangga, karena telah banyak kajian, penerapan, dan produk-produk inovasi yang dihasilkan, sejak BPPT dibangun oleh almarhum Prof. BJ Habibie di tahun 1978 yang juga menjabat sebagai Menristek RI saat itu – sampai sekarang Kemenristek/BRIN dipimpin oleh Menteri Prof. Bambang PS Brodjonegoro, sejak 2019 sampai In Syaa Allah tahun 2024.

Pembangunan Ekosistem Inovasi Nasional

Pembangunan Ekosistem Inovasi Nasional menuju Indonesia Emas di tahun 2045 merupakan tema HUT BPPT ke-42. Cita-cita ini tidak muluk-muluk, tetapi realistis dan berbasis pada Undang Undang Sistem Iptek Nasional per Agustus 2019, yang memberikan mandat bagi KementerianRistek/BRIN untuk mengkoordinasikan seluruh Lembaga litbangjirap (penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan) di seluruh Indonesia, termasuk BPPT. Menurut Dr. Hammam Riza, Kepala BPPT, UU SIPTEKNAS ini menjadikan Iptek menjadi landasan ilmiah dalam perumusan dan penetapan kebijakan pembangunan nasional untuk semua sektor. Bukan saja pembangunan Iptek untuk sektor Iptek saja, melainkan pembangunan suatu Negara harus menguasai Iptek, serta berbasis riset dan inovasi, jika Indonesia ingin bergerak maju dari negara upper middle income menjadi negara maju.

Bangkitnya Inovasi untuk Indonesia Maju
Kenyataan bahwa para peneliti, perekayasa, innovator Indonesia dalam konsep triple helix (akademisi – dunia usaha – pemerintah) bahkan penta helix (dengan melibatkan komunitas dan media), sudah bukan merupakan teori atau konsep seperti yang telah dikatakan 20 tahun yang lalu, tetapi konsep ini menjadi suatu kenyataan konkrit dengan bergabungnya BPPT dan stakeholders lainnya dalam Konsorsium Riset dan Inovasi untuk Penanggulangan Percepatan Covid-19, bentukan KemenristekBRIN. Menanggapi hal ini, BPPT dengan sigap membentuk Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk Penanganan Pandemi Covid-19 (TFRIC-19).

Selanjutnya, dalam kurun waktu yang sangat cepat, dua bulan setelah Covid-19 dinyatakan sebagai pandemi di Indonesia, Kemenristek/BRIN bersama stakeholders Indonesia lainnya mendukung peluncuran 57 produk inovasi untuk penanggulangan Covid-19 oleh Presiden RI Joko Widodo pada Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2020. Saat ini produk inovasi tersebut telah berkembang menjadi 61 buah, dan sudah diluncurkan bersamaan dengan 100 Desa Berinovasi, Sistem Nasional Kecerdasan Artifisial dan e-Catalogue produk inovasi yang diresmikan oleh Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin pada peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas 25) 10 Agustus 2020.

Inovasi dan Layanan Teknologi BPPT
Dalam paparannya di HUT BPPT ke-42 Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan bahwa untuk menghasilkan inovasi dan layanan teknologi terbaik di Indonesia, secara berkesinambungan, serta mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045, dibutuhkan sinergitas dan kolaborasi antar semua pemangku kepentingan, dalam sebuah ekosistem inovasi. Ekosistem inovasi pentahelix, mengusung pola kerjasama antar pemerintah, industri/bisnis, akademisi, hingga dukungan komunitas maupun media massa, yang merupakan pemangku kepentingan penyelenggara Iptek dalam menghasilkan produk inovasi buatan Indonesia.


Lebih lanjut dikatakan Hammam, bahwa TFRIC-19 yang diorkestrasi BPPT, merupakan salah satu wujud nyata keberhasilan ekosistem inovasi nasional. TFRIC-19 ini beranggotakan delapan institusi litbang pemerintah, 18 perguruan tinggi, empat industri nasional, enam startups, tiga rumah sakit, 15 komunitas, dan telah menghasilkan lima produk inovasi alat kesehatan, yang telah digunakan dalam mendukung penanganan wabah Covid-19 di tanah air.

Kelima produk inovasi alat kesehatan tersebut adalah (i) Rapid Diagnostic Test (RDT) kit, (ii) Polymerase Chain Reaction – PCR (swab) test kit, (iii) Mobile Laboratory Biosafety Level 2 (BSL-2), (iv) Emergency Ventilator, dan (v) Sistem deteksi Covid-19 dengan menggunakan pencitraan medis berbasis Kecerdasan Artifisial atau Artificial Intelligences (AI). “Kelimanya ini sudah produksi semua, dan resmi diluncurkan oleh Presiden RI Joko Widodo pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun 2020,” ungkap Hammam dan Menristek Bambang.

Transformasi Digital dan Bangkitnya Inovasi untuk Indonesia Maju
Pelaksanaan transformasi digital merupakan salah satu upaya strategis yang harus dilakukan oleh Bangsa Indonesia, hal ini dikatakan oleh Presiden RI Joko Widodo. “Saya ingin semua platform teknologi harus mendukung transformasi kemajuan bangsa,” kata Presiden dalam Pidato Kenegaraan Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat Peringatan HUT ke-75 Kemerdekaan RI, di Gedung MPR RI dan DPR RI, Senayan, Jakarta, Jumat (14/08/2020).

Oleh sebab itu program “Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial (Stranas KA) 2020-2045” yang baru di resmikan pada Hakteknas 25 pada 10 Agustus 2020 oleh Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin dan Menristek Bambang PS Brodjonegoro, merupakan salah satu contoh implementasi platform teknologi untuk mendukung kemajuan bangsa. Strategi nasional kecerdasan artifisial ini berisikan lima bidang prioritas utama yang meliputi layanan kesehatan, reformasi birokrasi, pendidikan dan riset, ketahanan pangan, serta mobilitas dan kota cerdas.

Dikatakan lebih lanjut oleh Hammam, bahwa BPPT sudah mendukung transformasi digital sebagai upaya untuk implementasi Revolusi Industri 4.0 di Indonesia. Ada 41 aplikasi digital yang dimiliki BPPT, untuk penguatan dukungan manajemen dan kesejahteraan pegawai, seperti aplikasi digital Fabiola untuk mencatat presensi dan kinerja pegawai dan Face Biometric Location Authentication,” ungkap Hammam.

Pada HUT BPPT ke-42, Ka.BPPT Hammam Riza dan Menristek Bambang meluncurkan inovasi Aplikasi Identitas Digital I-Otentik-3000. Aplikasi ini merupakan sertifikat digital bagi seluruh pegawai BPPT, dimana BPPT akan menjadi instansi PemRI pertama yang melaksanakan hal tersebut. Fungsi aplikasi ini untuk memastikan dokumen yang terkirim dalam keadaan utuh dan baik, serta untuk autentifikasi dokumen dan pengirim. Hal ini untuk menghindari maraknya dokumen palsu. Selain itu, Hammam juga mengatakan bahwa BPPT telah menerima mandat dari Kementerian Kominfo RI sebagai penyelenggara sertifikasi elektronik, yang berwenang menerbitkan, melakukan validasi, dan mengelola sertifikat digital yang diperuntukkan di lingkungan instansi pemerintah.

Kolaborasi Mutlak dalam Riset dan Inovasi
Menristek/Ka.BRIN Bambang PS Brodjonegoro sangat mengapresiasi pencapaian-pencapaian inovasi BPPT q.q. TFRIC untuk penanggulangan pandemi Covid-19. Disamping itu beliau juga menyatakan keberpihakannya pada periset (peneliti), perekayasa, dan para inovator Indonesia untuk tetap memperjuangkan hilirisasi dan komersialisasi dari inovasi-inovasi anak bangsa ini, di Indonesia maupun di pasar global. Banyak pihak baik dari PemRI maupun pihak swasta yang perlu mendapatkan informasi lebih lanjut dari inovasi-inovasi yang sudah dihasilkan selama ini.

Perlu adanya kolaborasi erat dan efektif dari semua stakeholders ABG – triple helix dengan implementasi yang konkrit, untuk menjaga kesinambungan dari hilirisasi dan komersialisasi produk – produk inovasi lokal. Dimasa pandemi Covid-19, musuh yang dihadapi adalah kasat mata dan tidak terlihat, menyebabkan tidak saja kematian manusia tetapi juga terpuruknya perekonomian negara-negara di dunia. Oleh sebab itu, semua pihak di Indonesia harus lebih mempererat kolaborasi untuk Bersatu melawan musuh bersama Covid-19 ini. Hilangkan semua ego sektoral, ego individu, ego institusi; melainkan tingkatkan kolaborasi bersama untuk melawan musuh yang kasat mata ini. tanpa bersatu, kita tidak mungkin memenangi peperangan ini.

Menristek Bambang lebih lanjut mengatakan bahwa produk-produk inovasi saat ini, khususnya dalam bidang Covid-19, tren sekarang merupakan hasil inovasi dari kerja bareng beberapa peneliti dan inovator (multi disipliner) untuk menjadi satu produk inovasi. Kemitraan dan kolaborasi ini pun, zaman sekarang dengan kemajuan teknologi digital, bisa tidak berada dalam satu tempat (satu lab/satu pusat) melainkan bekerja bersama dapat juga antar institusi, antar negara dan lintas benua. Kemitraan dan kolaborasi ini mutlak di lakukan karena tidak ada satu ilmu pun di dunia ini yang akan mampu mengatasi pandemi Covid-19 dengan pendekatan single approach belaka. Melainkan diharapkan kolaborasi beberapa stakeholders dapat dan atau mutlak untuk diterapkan.

Disamping itu, Menteri Bambang juga sangat mendukung konsep reverse engineering dari almarhum Presiden RI ke-3 (Menristek 1978 – 1998) yang bermula dari akhir, sehingga penciptaan inovasi-inovasi baru untuk penanganan pandemi Covid-19, dapat dilakukan dengan cepat dan tepat. Pada awal pandemi Covid-19, banyak alat Kesehatan seperti (i) Rapid Diagnostic Test (RDT) kit, (ii) Polymerase Chain Reaction – PCR (swab) test kit, maupun (iii) Ventilator impor masuk ke Indonesia. Jika produk inovasi anak bangsa tidak ada, maka 100 persen Indonesia akan sangat bergantung pada produk impor. Alhamdullilah saat ini sebagian industri alat kesehatan dan bahan baku obat sudah mulai dapat di produksi lokal. Lebih lanjut Menteri Bambang mengatakan bahwa penemuan vaksin dan obat untuk Covid-19 memang tidak mudah dan memakan waktu, akan tetapi manusia tidak boleh menyerah dan fokusnya harus diubah menjadi cara untuk hidup berdampingan dengan Covid-19 dengan menerapkan protokol kesehatan, sambil menunggu vaksin dan obat Covid-19 ditemukan. Oleh sebab itu aplikasi reverse engineering ini bisa diterapkan untuk penciptaan produk-produk inovasi yang dibutuhkan di masa yang akan datang.

Sebagai penutup, Menteri Bambang berharap BPPT dapat menjadi bagian dari komunitas litbangjirap Indonesia pemerintah yang akhirnya mendorong inovasi dan lebih fokus pada substitusi impor serta memperbaiki image mengenai substitusi impor tetapi bukan dengan subsidi dan proteksi yang berlebihan yang akan membantu mengurangi defisit dan mengangkat kemampuan teknologi bangsa.

Hari jadi BPPT ke-42 dengan tema “Membangun Ekosistem Inovasi Teknologi untuk Indonesia Maju” juga diisi dengan pemutaran video produk-produk hasil litbangjirap BPPT terutama produk inovasi untuk mengatasi pandemi Covid-19 yang dihasilkan oleh super tim TFRIC-19 di bawah koordinasi BPPT dan sebagai bagian dari Konsorsium Riset dan Inovasi Penanganan Covid-19 Kemenristek/BRIN.

Selain video hasil litbangjirap, pada acara ulang tahun BPPT ke-42 ini, beberapa pemerhati dan pelaku kebijakan riset dan inovasi, menyampaikan testimoninya baik secara langsung maupun virtual.
Kepala BNPB, Letnan Jenderal Doni Monardo secara virtual menyampaikan testimoninya bahwa BNPB dan BPPT bermitra sangat baik dalam hal penanganan bencana khususnya terkait kebakaran hutan dan lahan, pengalihan curah hujan untuk menghindari banjir, terutama dengan pemanfaatan teknologi modifikasi cuaca untuk hujan buatan, serta dimasa pandemi Covid-19. Kepala BNPB Doni juga sangat mengapresiasi BPPT yang telah membantu Pemerintah RI dalam penanganan Covid-19 dengan melahirkan produk inovasi buatan anak bangsa .

Berikutnya Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Andika Perkasa yang hadir secara langsung memberikan testimoni peran nyata BPPT dalam menghasilkan inovasi dan teknologi. Andika memberikan contoh ketersediaan laboratorium PCR berjumlah 6 buah. Padahal jumlah rumah sakit yang dimiliki angkatan darat sebanyak 68 rumah sakit. BPPT meminjamkan laboratorium kepada TNI angkatan darat yang ditempatkan di RS Ridwan Meuraksa. Rencana pengadaan melalui BNPB sejumlah 20 unit laboratorium PCR dan direncanakan akan ditempatkan di 20 rumah sakit. Kehadiran Mobile Lab BSL 2 sangat bermanfaat di RS Ridwan Meuraksa dan BPPT akan meminjamkan satu mobile lab generasi kedua tersebut akan ditempatkan di RS TNI AD Putri Hijau Sumatra Utara. Rencananya RS TNI angkatan darat akan memesan ventilator dan reagen pada BPPT. KASAD Andika berkomitmen akan bekerja sama dengan BPPT untuk mengatasi pandemi Covid-19.

Penandatanganan Beberapa Nota Kesepahaman
Nota Kesepahaman yang telah ditandatangani antara BPPT dengan PT Tempo Scan Tbk. juga mengarah pada kemandirian Indonesia di dalam pembuatan alat rapid test Covid-19. Ketika BPPT sudah berhasil dengan alat rapid test generasi pertama dan selanjutnya menunjukkan telah ada pengembangan produk yang seharusnya menjadi bagian penting dari riset dan pengembangan di Indonesia. Tidak hanya sekedar penemuan di tahap awal, mendapatkan paten, dan seterusnya tapi ketika sudah menjadi produk maka harus ada pengembangan produk yang basisnya riset dan inovasi. Pengembangan produk penting untuk daya saing. Di masa pandemi BPPT berhasil mengaplikasikan reverse engineering secara tepat waktu dan tepat sasaran dan mulai fokus pada pengembangan produk.

Pemanfaatan teknologi juga merambah di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif dengan telah ditandatanganinya Nota Kesepahaman juga dilakukan BPPT dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tentang pengkajian dan penerapan teknologi untuk mendukung Sektor pariwisata dan eknonomi kreatif.

Melihat Secercah Harapan di Tengah Kepungan Pandemi Covid-19*)
Mengutip sebagian pesan singkat yang menginspirasi dari dr. Tauhid Nur Azhar (Wakil Ketua Sub Task Force 5 kepada Dr. Hammam Riza):
“Berangkat dari menyimak pemaparan Menristek, Kepala BPPT dan juga KASAD, seiring dengan manuver gerak cepat Pak Erick Tohir dan Ibu Menlu Retno Marsudi, terbetik sebuah pemikiran, yang semoga dapat menjadi doa sekaligus harapan agar kondisi pandemi yang tengah kita jalani akan dapat dikelola dengan solusi yang jitu sekaligus memiliki dampak konstruktif jangka panjang.

Kemandirian dan kemauan untuk mengembangkan hasil inovasi teknologi anak negeri menjadi salah satu kata kunci. Dalam pidato yang disampaikan Pak Menristek di rangkaian acara peringatan milad BPPT ada tersurat dengan sangat jelas kebijakan dan keberpihakan pada pengembangan ekosistem inovasi dan teknologi sebagai pemantik kebangkitan dan kemandirian bangsa yang sekaligus juga dapat menjadi solusi utama dalam mengelola pandemi yang tengah melanda. Pesan Pak Menristek yang juga guru besar ekonomi sangat menarik. Menurut Pak Menristek, BPPT selama pandemi telah melakukan hilirisasi luar biasa dalam penanganan wabah Covid 19, dengan jendela peluang yang berdurasi sangat singkat. Bermitra dengan industri dan mengidentifikasi stumbling block karena semua “baru” dan kaget dgn perubahan yang menuntut adaptasi cepat, learning by doing, dan ternyata bisa dan ada mitra industri yang mau percaya dan bekerjasama. Perubahan paradigma secara personal terjadi pada beliau yang semula lebih menekankan pada efisiensi secara ekonomi dengan mengedepankan nilai market dari suatu produk, hingga condong mendorong impor. Dan ekspor pada akhirnya akan terjebak pada produk dengan effort minim untuk pengolahan, alias raw material dan produk tanpa olahan.

Kini beliau (Pak Menristek) punya pandangan lain dan mengajak kita semua untuk mengubah paradigma dan mampu melihat the real values of innovation product yang terkait dengan kemandirian dan nilai tambah.
Menyambung pemikiran Pak Menristek dan Pak Hammam Riza (Kepala BPPT), maka salah satu hal penting yang perlu diwujudkan adalah penguasaan vaksin sebagai solusi utama penanganan pandemi. Upaya tersebut antara lain dilakukan dengan mendorong riset, hilirisasi hasil inovasi, alih teknologi, dan produksi dalam negeri serta “mengikat”nya dalam bentuk pembelian bulk/ready to fill (RTF) vaccine serta produk vaksin jadi dari produsen sebagai langkah kongkret strategis yang harus dan telah dilakukan.

Dalam perspektif ketahanan ekonomi, jika kita bisa mempertahankan pertumbuhan ekonomi dalam satu kuartal dengan bersandar pada kemandirian produk agro dan pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri maka kita dapat “mencuri” start dalam membangkitkan kesejahteraan bangsa pasca pandemi. Fenomena unik yang terjadi kini hanya ada sekitar tujuh sampai delapan negara yang memiliki vaksin Covid 19 (yang relatif paling dekat untuk diaplikasikan), antara lain Cina, Korsel, UK, India, US, Rusia, Uni Emirat Arab (UEA), dan Indonesia. Keunggulan komparatif dan kompetitif Biofarma, Kalbe Farma, dan LBM Eijkman serta BPPT dan juga TNI AD, adalah keberadaan (memiliki) fasilitas riset dan kapasitas manufaktur yang memadai. Maka bridging dengan produk impor selain memperpendek waktu pandemi, juga menutup kuantitas cakupan. Dalam pertengahan 2021 jika 100 juta penduduk Indonesia saja telah memiliki imunitas, maka bisa dipastikan kita lah bersama Cina, UEA, dan Rusia yang akan menjadi episentrum pertumbuhan ekonomi kawasan. Karena negara2 dengan jaring pengaman sosial yang bersumber dari cadangan devisa akan semakin sulit bangkit dari resesi selama kurang lebih dua sampai tiga kuartal. Sementara definisi resesi sendiri adalah kondisi produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi suatu negara negatif selama dua kuartal berturut-turut. Amerika Serikat dengan vaksin modernnya masih sulit meng-cover seluruh warganya, demikian juga UK yang masih harus berbagi dengan India yang memproduksi vaksin rancangan Oxford bersama Astra Zeneca yang bekerjasama dengan SII. Ini peluang sangat besar bagi Indonesia untuk memasuki fase peran sebagai ‘Game Changer’. Ini saat yang sangat penting sebagai titik balik kemandirian bangsa. Dan sinergi inovasi teknologi berkonsep ekosistem adalah salah satu model katalis utamanya. Kebangkitan dan kemandirian akan lahir dari penguasaan riset dan industri berbasis teknologi hayati. Dan ini semua perlu niat, perlu kerja cerdas nan keras dengan ikhlas yang tentu saja memerlukan bantuan dan Ridho dari Zat yang Maha menentukan sebagaimana doa penutup Pak Hammam Riza: Allah adalah Zat yang memberi petunjuk ke jalan yang selurus-lurusnya (wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq). Sangat indah”. Mengakhiri perhelatan keren dari HUT BPPT ke-42, tampil juga band internal Konser Ruang Tujuh BPPT yang sangat menghibur, dan dilanjutkan dengan performa anak Band BPPT dari peneliti dan perekeyasa muda BPPT. Sungguh seni itu terkait erat dengan penguasaan riset, teknologi, dan inovasi.

Turut Hadir langsung dalam acara ini, selain Menristek Bambang PS Brodjonegoro dan KASAD Jenderal Andika Perkasa, antara lain Angela Tanoesoedibjo mewakili Menteri Pariwisata, Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Nasaruddin Umar, Presiden Direktur PT Tempo Scan Tbk. Handojo Selamet Murjadi, Staf Ahli Bidang Konektivitas Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Sahat Manaor Panggabean, beberapa pejabat struktural KemenristekBRIN dan BPPT.

*)Terinspirasi dari pesan singkat dr. Tauhid Nur Azhar, Wakil Ketua SubTask Force 5 Sarana dan Prasarana Alat Kesehatan kepada Dr. Hammam Riza, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Nada Marsudi, Riska Cobaningrum, M Rif’an Jauhari, Masluhin Hajaz
Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik
Kemenristek/BRIN