SIARAN PERS KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI/BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL
Nomor : 137/SP/HM/BKKP/VIII/2020

Jakarta – Demi mendorong terwujudnya kemandirian obat, vaksin, dan alat kesehatan hasil karya anak bangsa, Komisi IX DPR RI memberikan apresiasi dan mendukung penuh keterlibatan aktif dari seluruh pihak yang telah melakukan riset dan inovasi untuk penanggulangan COVID-19. Termasuk pengembangan Vaksin Merah Putih yang menggunakan isolat virus asli dari Indonesia.

Pada Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi IX DPR RI, Senin (31/8), Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19 Kemenristek/BRIN Ali Ghufron Mukti menyebutkan pihaknya berharap hasil-hasil riset inovasi di bidang kesehatan buatan dalam negeri ini diproduksi oleh industri dan lebih banyak digunakan serta dimanfaatkan oleh para pengguna. Sehingga mengurangi import dan ke depan, Indonesia tidak lagi bergantung pada produk luar negeri.

“Kalau triple helix sudah jalan lalu ada kepastian jaminan bahwa kita bikin inovasi dan produk akan dibeli, maka kualitas dan harga akan semakin baik. Kenapa masih harus import padahal di sini ada. Itu saya kira PR berikutnya.
Selanjutnya komunikasi dan koordinasi ini harus berjalan sehingga tidak ada yg saling disalahkan ke depan. Kalau ini semua bisa, maka
kami optimis peneliti dan produsen alkes kita akan semakin banyak yang bisa mandiri dan profesional, bayangkan dalam waktu 4 bulan saja sudah ada 61 inovasi baru terkait, yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya,” ungkap Ghufron.

Menanggapi hal tersebut, Komisi IX mendorong Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19 untuk terus meningkatkan komunikasi, koordinasi, riset serta inovasi dalam negeri bersama seluruh pihak terkait, termasuk Kementerian Kesehatan, BUMN, dan pihak industri.

Secara khusus, Komisi IX juga mendesak Kementerian Kesehatan berkomitmen memanfaatkan hasil riset dan inovasi Covid-19 yang telah dihasilkan konsorsium dengan tetap mengutamakan aspek kejujuran, keterbukaan, akuntabilitas, serta keberpihakan kepada keamanan dan kesehatan masyarakat.

Sementara itu, Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio juga turut menjelaskan mengenai perkembangan dari Vaksin Merah Putih saat ini, dimana dalam 2 – 3 bulan ke depan pihaknya berharap sudah dapat memulai uji coba pada hewan.

Hadir pada kesempatan yang sama Plt. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan Slamet, Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif Badan POM Rita Endang, Direktur Utama PT Bio Farma Honesti Basyir, perwakilan Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid -19 UNPAD Rodman Tarigan, Direktur Pengembangan Usaha dan Inkubasi UGM Hargo Utomo, Ketua Pusat Penelitian dan Pengembangan Stem Cell UNAIR Purwati, Ketua Pusat Riset Virologi dan Kanker Patobiologi FKUI RSCM Fera Ibrahim dan Sekretaris Deputi Penguatan Inovasi Lanjar.

Ayu Pravita, Masluhin Hajaz, Ali Ghufron Mukti

Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik
Kemenristek/BRIN