SIARAN PERS

KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI/BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL
Nomor: 89/SP/HM/BKKP/VII/2020

Jakarta- Pada Selasa (14/7) Komisi IX DPR-RI telah menyelenggarakan Rapat Kerja bersama Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional, Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan, serta PT Bio Farma dengan pembahasan mengenai Perkembangan Pelaksanaan Inpres No.6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan, dan Terobosan dalam Mendukung Upaya Kemandirian Obat dan Vaksin untuk Covid-19 termasuk pemanfaatan Obat Modern Asli Indonesia (OMAI).

Dalam rapat tersebut, Menristek/Kepala BRIN Bambang PS Brodjonegoro menjelaskan peran Kemenristek/BRIN untuk mendorong penguasaan teknologi dan inovasi dalam bidang farmasi dan alat kesehatan dalam negeri. Menristek/Kepala BRIN menyebutkan, kesehatan dan obat merupakan salah satu fokus yang telah dicanangkan dalam Prioritas Riset Nasional tahun 2020- 2025.

“Adapun tema-tema riset terkait kesehatan dan obat meliputi antara lain Teknologi Produksi Sediaan Obat (Berbasis Bahan Baku Alam) dan Bahan Baku Obat Dalam Negeri Untuk Penguatan Industri Farmasi Nasional, Alat dan Instrumentasi Kesehatan Produksi Dalam Negeri, dan Pengobatan Presisi/Akurat Berbasis Genom dan Sel Punca Untuk Mengatasi Masalah Perubahan Demografi,” jelas Menristek/Kepala BRIN.

Lebih lanjut Menristek/Kepala BRIN juga turut menyampaikan sejumlah upaya yang telah dilakukan dalam pengembangan vaksin yang saat ini sudah masuk dalam tahap pengujian. Dalam tahap ini, Lembaga Biologi Molekuler Eijkman telah membangun pondasi pembuatan vaksin dari suatu zat protein atau disebut dengan protein rekombinan. Tahap selanjutnya, vaksin akan diuji atau masuk tahap percobaan terhadap hewan yang akan dilakukan di Laboratorium Biosafety Level-3 (BSL-3) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Vaksin yang diberi nama Vaksin Merah putih ini ditargetkan akan rampung pada 2021. Dalam pengembangan vaksin ini, Lembaga Eijkman terus bekerjasama dengan perusahaan farmasi nasional, yakni PT Bio Farma.

Sementara itu, dalam rangka mendukung pengembangan vaksin corona, BPOM juga telah memperkuat laboratorium untuk mendukung pengujian spesimen. BPOM juga mengambil peran untuk percepatan izin edar dan pelulusan produk sebagai obat dan vaksin, sehingga proses pengembangan obat dan izin edar nantinya dapat lebih cepat dilakukan.

Pada waktu yang sama, Direktur Utama PT Bio Farma, Honesti Basyir menjelaskan, pihaknya akan berperan aktif untuk melakukan produksi vaksin. Menurutnya, bila bibit vaksin awal 2021 nanti sampai ke Bio Farma tepat waktu, maka bukan tidak mungkin kuartal III 2021 mendatang, Indonesia bisa memproduksi masal vaksin tersebut. Honesti optimistis pihaknya mampu memproduksi vaksin COVID-19 nanti hingga sebanyak 250 juta dosis per tahun.

Sementara itu, Komisi IX DPR RI terus mendorong pemerintah untuk memberi dukungan penuh dalam seluruh proses penelitian, pengembangan dan produksi vaksin Covid-19. Selain itu, Komisi IX DPR juga meminta pemerintah untuk mengintensifkan upaya penelitian dan pengembangan Obat Modern Asli Indonesia dan produk alat kesehatan buatan dalam negeri agar Indonesia dapat mengurangi impor dan mandiri dalam bidang kesehatan.

Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik
Kemenristek/BRIN