Siaran Pers Kemenristek/BRIN
Nomor : 290/SP/HM/BKKP/XII/2019

Gunung Kidul – Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Ka. BRIN) Bambang Brodjonegoro meninjau alat penyulingan minyak kayu putih dan juga secara simbolis melakukan penanaman bibit unggul tanaman kayu putih di Kec. Playen, Kab. Gunungkidul Rabu 18 Desember 2019.

Dalam kunjungannya tersebut Menteri Bambang mengatakan pemanfaatan teknologi Benih Unggul Kayu Putih telah dilakukan oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPBPTH) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), yang bermitra dengan PT. Eagle Indo Pharma dan PT. Sanggar Agro Karya Persada.

Kegiatan ini mendapatkan dukungan pendanaan untuk komersialisasi dari DM Penguatan Inovasi sejak 2017-2019.

“Komersialisasi teknologi benih unggul kayu putih ini melibatkan sinergi industri PT. Eagle Indo Pharma dan PT. Sanggar Agro Karya Persada, pemerintah daerah (kontribusi dalam bentuk lahan), dan masyarakat (2 Kelompok Tani Hutan (KTH), sejumlah 25 orang yang berasal dari desa sekitar, untuk mengelola lahan seluas 10 hektar di Kecamatan Playen, Gunungkidul),” ujar Menteri Bambang.

Lebih lanjut Menteri Bambang menerangkan Kelompok Tani Hutan (KTH) Kayu putih di Kecamatan Playen Gunungkidul saat ini telah mulai melakukan penyulingan daun yang dipanen dari kebun kayu putih, yang ditanam menggunakan produk inovasi benih unggul.

“Minyak hasil penyulingan tersebut telah siap untuk diserahkan oleh kelompok tani hutan di Gunungkidul (sebagai plasma), kepada PT. Eagle Indo Pharma (sebagai inti). Percontohan pola inti plasma ini perlu didukung penuh oleh pemerintah daerah. BBPBPTH sebagai lembaga litbang berperan dalam menjamin mutu minyak kayu putih yang dihasilkan masyarakat (plasma), sedangkan industri (inti) sebagai off-taker produk yang dihasilkan plasma, sehingga supply chain industri kayu putih dari hulu ke hilir terbangun dengan baik,” terang Menteri Bambang.

Percontohan inti plasma ini diharapkan dapat direplikasi di daerah lain. Dengan meluasnya percontohan inti plasma ini, diharapkan swasembada minyak kayu putih dapat benar-benar terwujud. Dimasa yang akan datang, diharapkan penelitian tentang kayu putih tidak hanya berhenti di sektor hulu, namun juga merambat ke diversifikasi produk kayu putih, seperti untuk produk makanan dan kecantikan, sehingga industri kayu putih benar-benar terbangun dari hulu hingga hilir.

Sementara itu, peneliti dari BBPBPTH KLHK, Anto Rimbawanto menuturkan pertimbangan utama dalam riset pemuliaan kayu putih ini adalah karena masih sangat rendahnya produktivitas minyak kayu putih nasional. Di mana saat ini hanya mampu memasok 15% dari kebutuhan bahan baku industri obat-obatan dan farmasi dalam negeri.

“Akibatnya, kekurangan pasokan sebesar 85% dipenuhi dari impor minyak substitusi berupa minyak ekaliptus. Dan perlu kami sampaikan, bahwa kebutuhan bahan baku minyak kayu putih untuk industri obat kemasan dalam negeri tercatat mencapai lebih dari 3500 ton per tahun,” tutur Anto.

Turut hadir pada acara tersebut Plt. Deputi Bidang Penguatan Inovasi Jumain Appe, Deputi Bidang Penguatan Riset dan Pengembangan Muhammad Dimyati, Direktur Inovasi Industri Santoso Yudo Warsono, Bupati Gunung Kidul Badingah, Perwakilan dari PT. Eagle Indo Pharma dan PT. Sanggar Agro Karya Persada.


Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik
Kemenristek/BRIN