Yogyakarta – Di masa pandemi seperti saat ini seluruh rumah sakit di Indonesia yang menjadi rujukan penanganan COVID-19, harus memiliki sistem instalasi sentral gas medis yang baik. Gas medis sendiri merupakan gas dengan spesifikasi khusus yang dipergunakan untuk pelayanan medis pada sarana kesehatan.

Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 4 tahun 2016 tentang Penggunaan Gas Medik dan Vakum Medik Pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan mengharuskan produk alarm gas medis mempunyai tiga deteksi tekanan gas, yaitu tekanan tinggi, normal, dan rendah. 

Salah satu produk inovasi yang dapat menjadi solusi dari hal tersebut adalah ALGIST (Alarm Gas Medis Digital), sebuah sistem alarm inovatif terstandar yang mempunyai fitur deteksi gas tekanan tinggi, normal, dan rendah. Algist merupakan salah satu produk inovasi binaan program Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PBBT) yang kini dikenal dengan Program Startup Inovasi Indonesia (SII). Dirintis sejak Juni 2017, perusahaan yang mendapatkan pendanaan pada 2018 dan 2019 ini, kini produknya telah digunakan di lebih dari 100 rumah sakit di Indonesia, termasuk RS rujukan pasien Covid-19.  

Algist bekerja dengan mendeteksi tekanan gas medis sentral yang ada di rumah sakit. Tekanan gas medis sebuah rumah sakit yang terlalu tinggi dapat membahayakan peralatan kesehatan yang ada sedangkan tekanan yang terlalu rendah dapat berbahaya bagi pasien yang membutuhkan gas medis. Terlebih untuk pasien Covid-19 yang sangat memerlukan oksigen tambahan untuk keperluan pernafasan.  

Chief Techology Officer (CTO) Algist, Muhammad Fanriadho yang merupakan alumni Teknik Elektro, Universitas Islam Indonesia (UII) menjelaskan bahwa Algist menggunakan mikrokontroler sebagai pengolah data dari sensor tekanan. Algist dilengkapi dengan buzzer sebagai keluaran bunyi ketika alarm menyala. Saat tekanan gas dalam kondisi tinggi maka Algist akan memunculkan tanda lampu merah yang menyala, kemudian lampu hijau pada tekanan normal dan lampu kedip kuning pada tekanan rendah. 

Angka besar tekanan juga dapat terbaca dan langsung ditampilkan ke  seven segment.  Tampilan seven segment dipilih agar mempermudah dalam penggunaan ALGIST. Kerangka luar Algist terbuat dari sheet steel yang mempunyai sifat mudah dibentuk, permukaan halus dan bersih sehingga dapat menambah kualitas dan ketahanan.

CEO Algist yaitu Hasyim Abdulloh yang merupakan Mahasiswa Teknik Elektro UII mengungkapan bahwa dari target penjualan yang disepakati pada program PPBT, Startup Algist mampu mencapai target 100% dengan menjual sebanyak 172 unit terjual di beberapa rumah sakit di Indonesia. Tak hanya sampai disitu, selama tahun 2020 Algist telah terjual sebanyak 122 unit termasuk salah satunya untuk pemasangan di RS Covid19 Pertamina, Simprug, Jakarta. Menurut Hasyim, pencapaian ini tak lepas dari dukungan Kemenristek/BRIN dan Inkubator Inbisma UII dalam membina Startup.

“Program ini tidak sekedar memberikan pendanaan, kami juga dibekali wawasan bisnis melalui bootcamp yang diadakan setiap tahun. Pembinaan dari para mentor serta pakar yang diberikan baik dari Kemenristek/BRIN maupun Inbisma UII yang membawa kami sampai tahap ini,” ujar Hasyim.

Penulis : Hasyim Abdullah (CEO Startup ALGIST)

Direktorat Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi, Deputi Bidang Penguatan Inovasi Kemenristek/BRIN