Mycotech mengembangkan kulit ramah lingkungan yang terbuat dari miselium jamur yang ditanam di limbah pertanian berserat seperti serbuk gergaji, tebu. Kulit jamur ini dapat menggantikan kulit hewan dan kulit berbasis minyak bumi dengan memproduksi kulit tanpa membahayakan hewan, tanpa perlakuan kimiawi yang tidak menyenangkan dengan proses tumbuh cepat, dengan perbandingan 3-4 tahun untuk menumbuhkan sapi dan hanya 60 hari menumbuhkan jamur. Kulit jamur dapat meniru tekstur kulit anak sapi tanpa menggunakan bahan kimia berbasis PVC atau PU. Kulit jamur memiliki kekuatan yang sama dengan kulit hewan dengan skor kekuatan tarik 8-11 Mpa dan kulit hewan memiliki skor 17 Mpa, sedangkan kulit sintetis memiliki skor 2,2 Mpa.

Manufaktur kulit merupakan salah satu penyumbang polusi terbesar dari emisi gas rumah kaca peternakan sapi, konsumsi air, limbah kimia yang beracun, dan penggunaan lahan. Jika dilihat dalam lingkup yang lebih besar, industri fashion merupakan penyumbang pencemaran terbesar di dunia, terutama terkait penggunaan zat kimia pewarna pakaian sangat mencemari perairan sungai. Dampak besar lainnya adalah penggunaan kromium dan bahan kimia logam berat lainnya dalam proses penyamakan tidak lagi diperlukan.

Laporan pengujian menunjukkan bahwa limbah cair kulit jamur hasil penyamakan hanya mengandung 0,05 mg/L (SNI 06-6989.17-2009). Hasil tersebut 600 kali lebih rendah dari praktik industri penyamakan kulit pada umumnya yang biasanya mengandung 30 mg/L. Selain itu, berdasarkan pengukuran Gas Rumah Kaca 6 bulan pembuatan kulit miselium oleh Decorum Group pada tahun 2019, diketahui bahwa penyamakan kulit miselium (pasca perawatan) menghasilkan 0,022 ton CO2e /m2. Angka tersebut dua kali lebih rendah dari praktik industri penyamakan kulit pada umumnya. Hal ini membuat beberapa pemimpin industri membutuhkan inovasi dalam pengurangan pencemaran.

Akhirnya, semakin timbul rasa kesadaran akan lingkungan dan isu climate change di kalangan pelaku industri fashion. Hal tersebut menimbulkan peningkatan permintaan kulit vegan dikarenakan  dampak lingkungan yang semakin buruk. Konsumen mencari alternatif lain yang berbasis bahan non-hewani atau minyak bumi. Ukuran pasar kulit vegan global meningkat dari tahun ke tahun dengan total ukuran pasar sebesar USD 89,6 Miliar pada  tahun 2025 dengan CAGR 49,9% (Infinitium Global).

Sebagai startup yang ingin memantapkan eksistensinya dalam industri fashion kulit vegan, Mycotech sudah mencoba 12 jenis hasil limbah agroforestri dengan 22 kombinasi resep dari industri kayu, industri nanas, industri tepung singkong, industri kelapa sawit, industri tebu, telah teruji di laboratorium  dan 7 diantaranya memiliki potensi yang sangat baik sebagai bahan baku media pertumbuhan jamur. Ini adalah konversi limbah menjadi pendapatan yang berasal dari limbah agroforestri yang akan mulai dimanfaatkan pada tahun 2021.

Sejak 2015 Mycotech memberdayakan 2 kelompok tani jamur untuk memasok dan memproduksi bahan baku. Mycotech telah melakukan pemberdayaan 200 petani jamur, dengan komposisi petani perempuan hingga 64%. Penerima dampak tidak langsung mencapai 600 orang termasuk keluarga petani. Proses perjalanan yang panjang Mycotech hingga saat ini, berbagai prestasi dan pendanaan juga telah diperoleh. Program Pendanaan Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (Startup) dari Kemenristek/BRIN pada tahun 2017 yang berhasil didapatkan, membantu menjembatani startup dengan kampus untuk melakukan serangkaian tes dan standar untuk riset dan pengembangan produk. PPBT juga membantu Mycotech mendaftarkan hak kekayaan intelektual seperti merek dagang.

Selain itu, mycotech juga mencoba semakin mengenalkan namanya dalam skala internasional dengan mengikuti Circular Economy Solver oleh MIT Solve 2019 dan Low-Carbon Inclusive Enterprise oleh SEED 2020. Tim yang terdiri atas Adi Reza (CEO Mycotech), Arekha Bentang Robbi, Zidna Ilman, Annisa Wibi, dan Ronaldiaz Hartantyo  adalah pemuda-pemuda berbakat dan semangat yang tinggi serta memiliki background dan pengalaman yang kuat untuk peran masing-masing dalam tim Mycotech.

Pada tahun 2020, masalah pandemi yang dihadapi oleh seluruh dunia berdampak buruk bagi  beberapa sektor bisnis termasuk industri fashion, tetapi bagi tim Mycotech hal tersebut tidak dijadikan sebuah halangan untuk tetap bertahan dan semakin berkembang ditengah pandemi. Brand fashion kini mencoba mere?eksikan diri dengan mulai menerapkan material terbarukan dan proses manufaktur yang ramah lingkungan.

Beberapa Brand kolaborator dari UMKM dan global brand semakin berinvestasi di inovasi yang dapat mempercepat aplikasi teknologi ‘low-carbon’. Mycotech sudah bekerjasama dengan 21 brand UMKM dan 4 brand global. Kegiatan kolaborasi ini berpotensi menghasilkan omset Rp 90 Miliar pada tahun 2023 jika Mycotech berhasil melakukan demonstrasi pasar dengan mereka pada tahun 2021.

Sumber data dan foto    : Mycotech

Penulis            : Tim Mycoteh dan Mega Fatimah