Bogor – Adalah Koes Hendra Agus Setiawan, Benny Akbar Kurniawan dan Rendhitya Dwiki Febriansyah yang merintis usaha King Worm ini. Suka duka sebagai mahasiswa Fakultas Peternakan di Institut Pertanian Bogor (IPB) membawa mereka bekerja sama melahirkan inovasi ulat tepung kering. Bentuk inovasi yang dilakukan oleh Koes Hendra dan rekannya adalah memberikan perlakuan khusus pada tahapan pengeringan ulat tepung.

Awalnya, ulat tepung hidup yang telah dipanen kemudian disortir dengan metode grading ukuran untuk memperoleh keseragaman yang tinggi. Lalu, ulat diberikan pakan berupa buah-buahan, limbah sayuran, limbah penggilingan gandum, dan pakan unggul selama 24 jam. Setelah itu, ulat dipisahkan dengan media pakan dan kotorannya dengan cara penyaringan. Selanjutnya, ulat dikeringkan sebanyak 2 kali.

Tahap pertama, ulat dikeringkan menggunakan microwave 800-1500 watt selama 10 menit. Penggunaan microwave mampu mematikan ulat dengan efektif sekaligus memaksimalkan pengeluaran kadar air. Kemudian, ulat dioven pada suhu 175o C selama 3 menit. Setelah dikeluarkan, ulat didiamkan pada suhu ruang selama 10 menit. Proses terakhir, ulat kering dikemas dalam botol dan siap didistribusikan.

Selama pandemi Covid-19 ini, seluruh negara di dunia terkena dampaknya. Salah satu dampaknya adalah diberlakukannya lockdown atau di Indonesia lebih dikenal dengan nama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), yang mengakibatkan sebagian besar aktivitas manusia dilakukan di rumah, baik untuk bekerja, belajar dan beribadah. Salah satu kegiatan yang dilakukan untuk menghilangkan kejenuhan selama beraktivitas di rumah tersebut yaitu memelihara hewan kesayangan. Trend tersebut mengakibatkan peningkatan omset penjualan pedagang hewan kesayangan beserta pakannya.

Salah satu pakan untuk hewan kesayangan yang praktis dan bernutrisi tinggi adalah produk King Worm. King Worm merupakan hasil pengeringan meal worm atau ulat hongkong dari larva kumbang (Tenebrio molitor L.) yang memiliki karakteristik unggul, yaitu berwarna kuning kecoklatan, bentuk utuh, tekstur renyah, rasa gurih, dan aroma mirip udang, serta mengandung nutrisi tinggi yaitu: protein 47,28%, lemak 40,67%, oleat 37,48%, dan linoleat 35,52%.

Selain memiliki kandungan nutrisi yang tinggi, ulat tepung kering ini memiliki palatabilitas (tingkat kesukaan ternak) yang tinggi pula. Ternak yang biasa mengkonsumsi King Worm adalah hewan kesayangan dan hewan eksotis seperti: burung hias, burung berkicau, ikan hias (ikan arwana, ikan louhan, ikan cupang), hewan pengerat (hamster, sugar glider, landak mini atau hedgehog), laba-laba, hewan reptil (kura-kura, iguana, bunglon), anjing, kucing dan pet animal lainnya. Bahan baku King Worm berupa ulat hongkong hasil budidaya sendiri serta diperoleh dari peternak mitra di daerah Bogor, Jawa Barat.

Pemanfaatan lain ulat hongkong adalah sebagai potensi pangan masa depan berdasarkan Badan Pangan Dunia atau FAO karena kandungan nutrisinya yang tinggi. Kelebihan lain ulat hongkong yaitu dapat mengolah limbah organik seperti limbah pasar dan limbah rumah tangga. Sekitar 15 juta ton dari 65 juta ton sampah di Indonesia tidak terolah setiap harinya (riset Sustainable Waste Indonesia) yang mana 60% nya didominasi oleh sampah organik.

Fase budidaya ulat hongkong ini dapat mengatasi limbah organik yang setiap tahunnya meningkat. Dalam luasan 1 m2 menghasilkan 60 kg ulat hongkong hidup yang dapat mengurai 350 kg sampah organik selama hidupnya. Peternakan ulat hongkong merupakan contoh peternakan perkotaan dimana tidak membutuhkan lahan luas, tidak mencemari lingkungan, serta tidak bising. Hasil samping dari budidaya ulat hongkong ini adalah kotoran/feces yang telah diuji di laboratorium Fakultas Peternakan IPB dapat mengkombinasi pakan ternak dari bahan tersebut.

Tak ingin sukses sendiri dan demi meningkatkan kapasitas produksi, Koes dan rekannya membuka kemitraan dengan pola inti-plasma. Dengan sistem syariat, tidak ada kontrak harga antara perusahaan Koes dengan mitra kerja. Yang diterapkan adalah sistem royalti dengan akad bersama yang disepakati diawal. Kepada mitra kerja, Koes menyediakan ilmu, bibit, dan pakan. Lalu, saat panen, barang diambil. Sejauh ini, telah ada 5 mitra kerja yang bekerja sama. Berkat kerja sama dengan Bank Mandiri Syariah, Koes dan rekannya juga mengembangkan gerakan sociopreneur di daerah Ciampea, Bogor. Mereka memperkerjakan ibu-ibu di sana yang daerahnya menghasilkan komoditas sayuran. Manfaatnya, limbah sayuran mereka dapat dijadikan pakan ulat. Kesejahteraan keluarga pun meningkat.

Selama pandemi covid-19 ini, omset King Worm mengalami peningkatan dari normalnya di angka 1000 sampai dengan 1200 pcs/bulan menjadi 1500 pcs/bulan dengan berat produk 50 gram/pcs. Hal ini dikarenakan banyaknya masyarakat yang memelihara hewan kesayangan untuk mengisi waktu luang mereka selama Work From Home (WFH) yang mengakibatkan konsumsi pakan hewan-hewan kesayangan tersebut juga naik termasuk King Worm. Konsumen banyak memesan produk King Worm secara online melalui situs web sugengjaya.com, e-commerce dan berbagai akun ofisial di media sosial atau Instagram: @sugeng_jayafarm, @sj_feedbogor dan @kingworm_driedinsect. Selain itu strategi yang dilakukan berupa memberikan potongan harga atau diskon untuk agen dan reseller agar dapat menarik minat pembeli. Tak hanya ulat hongkong kering bermerek King Worm, ada juga produk ulat hongkong hidup, Super Worm atau ulat Jerman kering serta Dried Cricket atau jangkrik kering.

Startup binaan Pusat Inkubator Bisnis dan Pengembangan Kewirausahaan (Incubie) Science Techno Park Institut Pertanian Bogor ini menerima hibah pendanaan dari program Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) Kemenristek/BRIN pada tahun 2019. Selama mengikuti program pendanaan Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi, King Worm telah mendapatkan legalitas usaha berbadan hukum dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dengan nama PT. Sugeng Jaya Grup, selain itu masuk 10 besar inovasi unggulan dalam Pameran Startup Teknologi dan Inovasi Industri Anak Negeri 2019 serta mengikuti Indonesia International Pet Expo 2019. PT. Sugeng Jaya Grup berlokasi di Pakuan Regency Cluster Linggabuana III Blok B6 No.1, Kelurahan Margajaya, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Jawa Barat.

Penulis : Dody Apriadi Indrakusuma, S.Pt.

Direktorat Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi

Deputi Bidang Penguatan Inovasi

Kementerian Riset dan Teknologi / Badan Riset dan Inovasi Nasional

Sumber : Startup King Worm, Benny Akbar Kurniawan (CEO)