Jakarta – Tahukah kamu, varietas mutan komersial pertama di dunia dihasilkan di Indonesia? Varietas itu bernama Clorina, varietas tembakau asal Klaten yang ditemukan oleh peneliti dari Belanda, D. Tollenaar. Varietas Clorina berasal dari varietas Kinari yang diiradiasi dengan sinar X pada tahun 1934. Pada tahun 1936, tanaman ini telah mengisi 10 persen areal penanaman tembakau di Indonesia. Hal ini disampaikan oleh peneliti Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Sobrizal, pada Seminar Daring bertajuk “Perbaikan Varietas Padi Lokal dengan Teknik Mutasi Radiasi”, yang disiarkan melalui video konferensi Zoom dan live di Youtube, Jumat (17/07).

“Tetapi ini tidak tidak berlangsung lama, karena pada tahun 1942 terjadi Perang Dunia II, sehingga pasar tembakau di Eropa terganggu dan gairah tanam tembakau di Indonesia juga berkurang,” jelas Sobrizal.

Dalam perkembangannya, aplikasi pemuliaan mutasi tanaman pada skala luas dimulai pada tahun 1964 melalui kerja sama internasional yang dibangun oleh Organisasi Pangan Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) dan Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA). Hingga saat ini, tercatat sudah ada 3.332 varietas mutan dari berbagai tanaman dan berbagai negara yang telah terdaftar pada basis data IAEA.

Program pemuliaan mutasi tanaman di Indonesia sendiri, lanjut Sobrizal, telah dimulai pada tahun 1970-an, melalui kerja sama penelitian antara BATAN dan IAEA untuk mendapatkan varietas padi dengan kandungan protein tinggi. Namun di tengah perjalanan, tujuan penelitian berubah untuk mendapatkan varietas yang tahan hama WBC.

“Karena pada tahun 1976, WBC menyerang hampir semua persawahan di Indonesia, terutama di Sumatera Utara,” lanjut Sobrizal.

BATAN berhasil melepas varietas mutan padi pertamanya pada tahun 1982 dengan nama Atomita 1 yang tahan terhadap hama WBC.

Hingga saat ini, BATAN telah menghasilkan 28 varietas padi, 12 varietas kedelai, 3 varietas sorgum, 1 varietas gandum, 2 varietas kacang hijau, dan 1 varietas kapas.

Saat ini, BATAN sedang berfokus pada kegiatan perbaikan varietas lokal. “Pengembangan varietas padi lokal bertujuan untuk membantu daerah mengembangkan varietas padi lokal yang telah dikenal di daerahnya, untuk menghadirkan iptek nuklir  di tengah masyarakat,“ tutur Kepala BATAN, Anhar Riza Antariksawan.

Teranyar, BATAN telah bekerjasama dengan Kabupaten Sijunjung menghasilkan varietas padi lokal bernama Lampai Sirandah, yang merupakan perbaikan padi lokal Lampai Sijunjung.

sumber : http://www.batan.go.id/index.php/id/kedeputian/sains-aplikasi-teknologi-nuklir/aplikasi-isotop-dan-radiasi/6633-clorina-varietas-mutan-komersial-pertama-dunia-asal-indonesia