Jakarta – Pandemi Covid-19 tidak hanya memberikan dampak pada sektor ekonomi dan kesehatan, namun juga pada kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Sejak awal Juni, Pemerintah telah mencanangkan adaptasi kebiasaan baru, disusul dengan diterapkannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Transisi oleh Pemprov DKI Jakarta. Hal ini mendorong sebagian masyarakat untuk mulai menjalankan aktivitas sosial dan ekonominya di luar rumah, seperti bekerja dan berbelanja ke pasar.

Adaptasi kebiasaan baru ini menuntut kita untuk beradaptasi dengan kebiasan-kebiasan baru diantaranya dengan secara disiplin menerapkan protokol kesehatan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Salah satu barang yang penting untuk mencegah penularan virus Corona selama beraktivitas adalah masker non-medis atau kain. Masker kain menjadi anjuran bagi masyarakat karena selain bisa dicuci dan dipakai kembali, masker kain tidak perlu ditangani sebagai limbah medis seperti masker bedah.

Salah satu startup binaan Kemenristek/BRIN yaitu MASKIT (Mask in Tech) dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin menggunakan masker berbahan kain untuk menunjang aktivitas di luar rumah. Sebagai Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT), MASKIT menawarkan masker yang berbeda.

Menurut Yolla Miranda CEO sekaligus Founder dari MASKIT, selain masker yang ‘reusable’, masker ini dilengkapi dengan filter yang memiliki lapisan teknologi nano silver kombinasi karbon aktif. Filter ini disarankan untuk diganti setiap dua minggu sekali. Penerima hibah PPBT Kemenristek (sekarang Startup Inovasi Indonesia) ini juga mengatakan bahwa lapisan nano silver pada filter MASKIT memiliki pori sebesar 0,9 nanometer (0.0009 mikron), sementara masker yang banyak beredar saat ini, yaitu masker bedah hanya mampu menyaring partikel dengan besar >1 mikron, sedangkan masker N95 hanya mampu menyaring partikel >0,3 mikron.

“Selain unggul dari sisi teknologi, masker ini juga tersedia dalam berbagai warna dan ukuran serta memiliki desain yang ergonomis sehingga stylish dan nyaman untuk digunakan” Ujar Yolla.

Sejak Tahun 2015, Yolla dan ketiga rekannya dari Fakultas Teknik, Universitas Indonesia sudah mengembangkan masker tersebut. Ide awalnya bermula dari keprihatinan Yolla dan kawan-kawan dengan tingginya angka penderita tuberculosis (TBC) di Indonesia. Baru pada Tahun 2017, masker dengan teknologi nano silver dan kombinasi karbon aktif mulai dikomersialkan dengan nama MASKIT.

MASKIT menjadi satu dari 249 startup yang menerima pendanaan dari Program PBBT Kemenristek/BRIN Tahun 2019. Yolla yang baru saja mengikuti  Pelatihan Bisnis (Leader in Innovation Fellowship) di London, UK ini mengungkapkan selama mengikutii program PPBT  banyak mendapat kesempatan untuk mengembangkan bisnis dan menjalin networking.

“Melalui program PPBT kami dibantu mengurus legalitas bisnis kami, sehingga kami sudah mendapatkan Nomor Induk Berusaha, Izin Usaha dan Izin Lokasi, Izin Edar dari Kementerian Kesehatan, pengujian sampel nanopartikel, pengujian sampel anti bakteri dan pengukuran absorbansi sampel,” jelas Yolla.

Seiring berjalannya waktu produk startup ini makin banyak dicari terlebih di era new normal karena kemampuannya untuk mendegradasi polusi dan mendesinfeksi bakteri serta virus. Kapasitas produksi saat ini telah ditingkatkan hingga 150.000 buah masker MASKIT dengan memberdayakan penjahit-penjahit yang selama masa pandemi turut mengalami penurunan omset.

Untuk pengemasan produk, MASKIT dibantu oleh sekitar 20 orang ibu rumah tangga. Masker tersebut diprioritaskan untuk suplai ke apotek, rumah sakit dan tenaga medis. MASKIT sejak akhir tahun 2019 bekerja sama dengan berbagai apotek mandiri dan apotek jaringan sehingga produk telah tersebar di seluruh Indonesia. Konsumen juga tidak perlu khawatir karena masker MASKIT telah memperoleh izin edar Alat Kesehatan dari Kementerian Kesehatan pada tahun 2020 sehingga aman untuk dipakai.  

Penulis : Andi Azhari Putra

Direktorat Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi
Deputi Bidang Penguatan Inovasi
Kementerian Riset dan Teknologi / Badan Riset dan Inovasi Nasional

Sumber : Startup MASKIT (Yolla Miranda, CEO)