Tangerang Selatan – Dua peneliti Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), yakni Paston Sidauruk dan Pande Made Udiyani dikukuhkan sebagai profesor riset oleh Majelis Pengukuhan Profesor Riset di Auditorium Gedung 71, Kawasan Nuklir Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (12/11). Pengukuhan ini menambah jumlah profesor riset di BATAN yang masih aktif menjadi 21 orang.

Paston Sidauruk dikukuhkan sebagai profesor riset bidang ekohidrologi dan Pande Made Udiyani sebagai profesor riset bidang keselamatan radiasi reaktor nuklir. Saat ini Paston aktif di Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR), sedangkan Pande Made Udiyani aktif di Pusat Teknologi Keselamatan Reaktor Nuklir (PTKRN).

Dalam pengukuhan ini, paston menyampaikan orasi dengan judul Teknik Isotop Dalam Pengelolaan Sumber Daya Air dan Bangunan Air. Menurut Paston, judul ini sangat relevan dengan kondisi Indonesia yang masuk ke dalam 10 negara dengan sumber data air terbesar yakni 3,9 triliun M3/tahun, namun karena keterbatasan sarana dan prasarana maka yang termanfaatkan hanya 17,7%. “Distribusi sumber daya air yang tidak merata dan tidak proporsional membuat kekurangan air masih terjadi khususnya di musim kemarau,” kata Paston.

Lanjutnya, seluruh komponen air dalam siklus hidrologi yang tersedia untuk pemenuhan kebutuhan manusia harus dikelola secara terpadu dan diidentifikasi untuk menghindari penggunaan air yang berlebihan. Salah satu teknologi yang dapat digunakan untuk melakukan identifikasi adalah teknologi isotop atau perunut isotop.
“Dengan menggunakan teknologi isotop, beberapa parameter penting yang dapat diidentifikasi dalam pengelolaan sumber daya air antara lain daerah imbuh cekungan air tanah, umur air tanah, pola dinamika dan neraca air waduk/danau, interaksi antara air tanah dan air permukaan, debit air permukaan, interkoneksi antara sistem sungai bawah tanah di daerah karst, interaksi airtanah dalam dan air tanah dangkal, dan pengaruh perubahan iklim pada siklus hidrologi,” tambahnya.

Aplikasi teknik isotop menurut Paston, dapat dimanfaatkan dalam penelitian keselamatan bangunan air seperti bendungan juga sangat berkembang khususnya penelitian kebocoran bendungan dan stratifikasi air waduk. Penanganan bocoran pada suatu bendungan sangat penting tidak hanya karena menyangkut kehilangan air yang merugikan tetapi juga karena masalah keamanan tubuh bendungan itu sendiri.

“Teknik isotop/perunut dapat melokalisir bocoran pada dinding atau dasar waduk tanpa perlu melakukan pengeringan waduk. Di samping itu, teknologi ini juga dapat digunakan untuk pemeliharaan bangunan air lainnya seperti untuk, mengkalibrasi ambang (weirs) dan saluran air (flumes) di lapangan, menyediakan kurva korelasi tinggi muka air terhadap debit, mengukur secara langsung laju aliran pada saluran yang tidak mempunyai ambang dan alat pengukur tinggi (level gauge), mengukur aliran kanal dan selokan (sewer) dengan tanpa perlu pembersihan lebih dahulu,” jelasnya.

Sementara itu, Pande Made Udiyani menyampaikan orasinya berjudul Keselamatan Radiasi Reaktor Nuklir : Persiapan Pembangkin Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Pertama di Indonesia. Menurut Made, judul ini dilatarbelakangi kondisi sumber pembangkit energi di Indonesia masih mengandalkan fosil sebagai sumber utama dalam memenuhi kebutuhan di dalam negeri.
“Pada tahun 2015 porsi energi fosil (minyak bumi, batubara, gas bumi) dalam bauran energi nasional sebesar 95%, sedangkan energi baru dan terbarukan (EBT) sebesar 5%,” ujar Made.

Made menegaskan, sebagian besar pembangkit energi yang digunakan untuk menghasilkan listrik berasal dari batubara sebesar 56,1% kemudian diikuti gas 24,9%, bahan bakar minyak (BBM) sebesar 8,6%, dan 10,4 % dari sumber energi lainnya. Penggunaan energi fosil telah mengakibatkan terjadinya peningkatan pemanasan global dan perubahan iklim yang mengancam kehidupan dan kelestarian bumi.

Pada tahun 2020, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 mentargetkan total pembangkit listrik EBT termasuk nuklir sebesar 14,5 GW. “Melalui Peraturan Pemerintah No.79 Tahun 2014 dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN), yang menyatakan bahwa bauran EBT setidaknya 23% di tahun 2025 dan 31% pada tahun 2050,” tegas Made.

Menurutnya, untuk memenuhi target bauran EBT, dan cadangan energi, maka opsi energi nuklir sudah harus menjadi pilihan. Selain itu, energi nuklir juga menjadi pilihan untuk membantu program Pemerintah untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Namun untuk membangunan PLTN di Indonesia tegas Made, memerlukan persyaratan keselamatan yang ketat disamping pemilihan tapak yang bebas gempa, tsunami, dan jauh dari area vulkano. Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 2014 tentang perizinan Instalasi nuklir dan Pemanfaatan Bahan Nuklir memerlukan dokumen perizinan dan penilaian teknologi untuk pembangunan PLTN.

“Keselamatan radiasi reaktor nuklir mencakup dan verifikasi akhir dari semua parameter keselamatan reaktor nuklir. Hasil kajian merupakan justifikasi terhadap keselamatan reaktor, bahwa reaktor nuklir menghasilkan lepasan zat radioaktif (ZRA) yang sesuai dengan peraturan BAPETEN dan International Atomic Energy Agency (IAEA),” tambah Made.

Selain itu untuk memastikan bahwa pekerja radiasi, masyarakat, dan lingkungan memperoleh dosis radiasi serendah mungkin sesuai dengan prinsip as low as reasonably achievable (ALARA), maka diperlukan kajian keselamatan nuklir untuk memastikan PLTN beroperasi aman dan selamat. “Penelitian yang terkait dengan keselamatan radiasi reaktor nuklir telah dilakukan antara lain perhitungan netronik, analisa termohidrolika, serta keselamatan deterministik dan probabilistik. Selain itu, telah dilakukan analisa keselamatan radiasi pada operasi normal, kondisi abnormal, serta manajemen kecelakaan,” jelasnya.

Menurut Made, tantangan terbesar bagi peneliti adalah terbatasnya data tentang reaktor daya, hal ini dikarenakan Indonesia belum mempunyai PLTN, sehingga tidak bisa melakukan penelitian tentang keselamatan dengan eksplorasi data PLTN komersial. Kajian keselamatan radiasi memerlukan data detail tentang parameter keselamatan reaktor daya, perangkat lunak yang terlisensi, dan jumlah SDM ahli yang cukup.

“Kajian keselamatan radiasi memerlukan SDM yang memahami tentang pengetahuan reaktor terutama tentang cara kerja fitur keselamatan, dan operasi reaktor,” katanya.

Namun demikian, tegas Made, sebagai Technical Support Organization (TSO), BATAN dapat melakukan kegiatan penelitian tentang kajian teknologi dan keselamatan PLTN, bekerja sama dengan pemangku kepentingan seperti Badan Tenaga Atom Internasional, Badan Pengawas Tenaga Nuklir, PLN, ESDM, Badan Riset dan Inovasi Nasional, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, dan para vendor.

Kepala BATAN, Anhar Riza Antariksawan merasa bangga terhadap prestasi kedua pegawainya yang dikukuhkan sebagai Pofesor Riset. Prestasi ini hendaknya menjadi penyemangat bagi para peneliti junior untuk terus menciptakan inovasi di masa yang akan datang.

“Kedua profesor ini bisa menjadi contoh bagi para peneliti junior agar lebih kreatif, terlebih lagi tantangan yang dihadapai di masa yang akan datang semakin berat terutama dalam hal penganggaran,” kata Anhar.

Anhar berharap, semoga hasil karya para peneliti BATAN dapat memberikan solusi terhadap berbagai pemasalahan yang ada di masyarakat. Pada akhirnya pemahaman masyarakat terhadap nuklir akan semakin baik dan nuklir tidak lagi diidentikan dengan hal-hal yang membahayakan saja. (Pur)

sumber : http://www.batan.go.id/index.php/id/kedeputian/manajemen/sdmo/6858-dua-pegawai-batan-dikukuhkan-sebagai-profesor-riset